Internationalmedia.co.id melaporkan, sementara sejumlah negara Eropa berlomba mengakui Palestina, Jerman justru memilih sikap berbeda. Penjelasan resmi dari pemerintah Jerman mengejutkan banyak pihak. Juru bicara pemerintah, dalam konferensi pers Jumat (22/8) waktu setempat, menegaskan Berlin belum berencana mengakui negara Palestina. Alasannya? Langkah tersebut dinilai akan menghambat upaya perdamaian yang tengah diupayakan melalui solusi dua negara yang dinegosiasikan dengan Israel.
"Solusi dua negara yang dinegosiasikan tetap menjadi prioritas kami, meskipun saat ini tampak masih jauh. Pengakuan Palestina lebih tepat dilakukan di tahap akhir proses tersebut, dan keputusan semacam itu saat ini justru kontraproduktif," ungkap juru bicara tersebut seperti dikutip Reuters dan Al Arabiya.

Sikap Jerman ini bertolak belakang dengan beberapa negara besar lainnya. Inggris, Prancis, Kanada, dan Australia, misalnya, telah menyatakan niat mereka untuk mengakui Palestina, meski dengan syarat-syarat tertentu. Keputusan Australia bahkan memantik reaksi keras dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebut Perdana Menteri Australia Anthony Albanese sebagai "politikus lemah" dan menuduhnya mengkhianati Israel. Netanyahu melontarkan kecaman pedas tersebut melalui media sosial resmi kantor Perdana Menteri Israel, menyusul pengumuman Canberra yang akan mengakui Palestina di Sidang Umum PBB September mendatang.
Albanese sendiri menjelaskan bahwa keputusan Australia didasarkan pada komitmen dari Otoritas Palestina, yang menjamin Hamas tidak akan terlibat dalam pembentukan negara Palestina di masa depan. Pernyataan ini menjadi sorotan mengingat ketegangan politik yang terus berlangsung di kawasan tersebut.

