Pada Kamis (5/3/2026), sebuah insiden mengejutkan di Samudra Hindia telah mengguncang stabilitas regional setelah kapal selam Amerika Serikat dilaporkan menenggelamkan sebuah kapal perang Iran. Serangan torpedo bawah laut ini mengakibatkan puluhan korban jiwa. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang memuncak di kawasan.
Meskipun Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, tidak menyebutkan nama kapal yang menjadi target, Angkatan Laut Sri Lanka sebelumnya melaporkan bahwa kapal perang Iran IRIS Dena tenggelam di Samudra Hindia. Hegseth mengonfirmasi serangan tersebut, menyatakan bahwa kapal Iran tersebut "merasa aman di perairan internasional, namun justru dihantam torpedo." Pernyataan Hegseth, yang dikutip BBC Indonesia, Kamis (5/3/2026), menekankan sifat serangan yang tidak seimbang. "Ini memang bukan pertarungan yang seimbang, dan tidak dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang," ujarnya, menambahkan ancaman, "Gelombang yang lebih besar akan datang. Kami baru memulainya."

Tragedi ini menelan korban jiwa yang signifikan. Angkatan Laut Sri Lanka, seperti dilansir AFP, Kamis (5/3/2026), telah mengevakuasi sedikitnya 87 jenazah tentara Iran dari kapal perang yang ditenggelamkan oleh torpedo AS tersebut. "Kami telah mengevakuasi 87 jenazah, dan pencarian masih dilakukan untuk yang lainnya yang masih hilang," kata seorang pejabat Angkatan Laut Sri Lanka yang tidak disebutkan namanya kepada AFP. Sedikitnya 61 tentara Iran masih dinyatakan hilang dari total sekitar 140 awak kapal IRIS Dena. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, mengumumkan bahwa 32 tentara Iran berhasil diselamatkan dan kini mendapatkan perawatan medis di rumah sakit di kota Galle. Seorang fotografer AFP di Sri Lanka melaporkan puluhan jenazah, yang diduga tentara-tentara Iran yang tewas, dibawa masuk ke rumah sakit setempat pada Rabu (4/3) malam.
Insiden mematikan ini terjadi di tengah eskalasi perang yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel sejak akhir pekan lalu di kawasan Timur Tengah. Tenggelamnya IRIS Dena menandai babak baru dalam konflik yang kini meluas hingga perairan internasional.
Kekhawatiran semakin meningkat dengan adanya laporan pergerakan kapal perang Iran kedua di dekat perairan Sri Lanka. Menteri Media Sri Lanka, Nalinda Jayatissa, mengumumkan keberadaan kapal tersebut di luar perairan Sri Lanka, tanpa memberikan rincian nama atau tujuan. Sejumlah sumber resmi Sri Lanka mengindikasikan kapal ini membawa lebih dari 100 awak dan dikhawatirkan dapat menjadi target serangan serupa yang menenggelamkan IRIS Dena pada Rabu (4/3) waktu setempat.
Teheran tidak tinggal diam. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam keras serangan tersebut, menuduh AS melakukan "kekejaman" di perairan internasional tanpa peringatan. Dalam pernyataannya via media sosial X, Araghchi, seperti dilansir AFP, Kamis (5/3/2026), menyebut insiden ini sebagai serangan terhadap "kapal fregat Dena, tamu Angkatan Laut India yang membawa hampir 130 pelaut, dihantam di perairan internasional tanpa peringatan." Ia memperingatkan, "Ingat kata-kata saya: AS akan sangat menyesali preseden yang telah ditetapkannya."
Di tengah ketegangan yang memanas, Sri Lanka menegaskan kembali posisinya yang netral dan terus mendesak dialog untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Namun, insiden torpedo yang menenggelamkan kapal perang Iran ini jelas menambah kompleksitas dan potensi eskalasi di panggung geopolitik global.

