Internationalmedia.co.id – News – Pyongyang kembali melontarkan tuduhan serius terhadap Seoul. Korea Utara (Korut) mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone mata-mata milik Korea Selatan (Korsel) di wilayah udaranya awal bulan ini, sebuah insiden yang langsung memicu bantahan keras dari Seoul dan berpotensi memanaskan kembali ketegangan di Semenanjung Korea.
Melalui kantor berita pemerintah KCNA, juru bicara militer Korut merinci bahwa drone tersebut terdeteksi bergerak "ke utara" di atas wilayah perbatasan Korea Selatan di Ganghwa pada awal Januari. Setelah dilacak, pesawat tak berawak itu berhasil ditembak jatuh di dekat kota Kaesong, Korea Utara.

Analisis terhadap puing-puing yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa drone tersebut dilengkapi dengan peralatan pengawasan canggih. Juru bicara itu menambahkan, rekaman yang tersimpan dalam perangkat tersebut mencakup target-target vital Korea Utara, termasuk area perbatasan. KCNA turut merilis foto-foto yang diklaim sebagai sisa-sisa drone tersebut, memperlihatkan puing pesawat bersayap serta komponen elektronik berwarna abu-abu dan biru, lengkap dengan kamera.
Namun, Seoul dengan tegas menolak tuduhan tersebut. Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan tidak memiliki catatan mengenai penerbangan drone semacam itu. Bahkan, Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back secara spesifik menegaskan bahwa model drone yang diperlihatkan dalam foto-foto KCNA "bukanlah tipe yang dioperasikan oleh militer kami."
Sebagai respons terhadap insiden yang memanas ini, kantor Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengumumkan akan segera menggelar pertemuan keamanan nasional pada hari Sabtu untuk mendiskusikan perkembangan terkini. Wilayah Ganghwa, yang disebut sebagai lokasi deteksi awal drone, secara geografis sangat strategis karena terletak di barat laut Seoul dan merupakan salah satu area Korea Selatan yang paling dekat dengan garis demarkasi Korea Utara.
Lebih lanjut, KCNA juga mempublikasikan sejumlah gambar udara kota Kaesong yang diklaim diambil oleh drone tersebut. Juru bicara militer Pyongyang menegaskan bahwa gambar-gambar ini adalah "bukti jelas" bahwa pesawat tak berawak itu telah "memasuki wilayah udara kami untuk tujuan pengawasan dan pengintaian." Mereka juga menarik perbandingan dengan insiden serupa pada bulan September lalu, ketika Korea Selatan dituduh menerbangkan drone di dekat kota perbatasan Paju. Pyongyang mengancam bahwa Seoul akan "terpaksa membayar mahal atas histeria mereka yang tak termaafkan" jika provokasi udara semacam itu terus berlanjut.

