Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Gedung Putih mengeluarkan pernyataan berani. Amerika Serikat (AS) sesumbar memiliki kapabilitas untuk menguasai Pulau Kharg, jantung ekspor minyak Iran, kapan saja Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah. Internationalmedia.co.id – News mencatat klaim ini menambah daftar panjang ancaman yang dilontarkan Washington terhadap Teheran.
Anna Kelly, Wakil Sekretaris Pers Utama Gedung Putih, dalam pernyataannya yang dilansir AFP, menegaskan bahwa militer AS siap sedia. Menurut Kelly, berkat proses perencanaan yang sangat terperinci, seluruh elemen pemerintahan AS telah dipersiapkan dan siaga penuh menghadapi setiap potensi tindakan yang mungkin diambil oleh apa yang mereka sebut sebagai ‘rezim teroris Iran’.

Wacana pendudukan atau blokade Pulau Kharg bukanlah hal baru. Sebelumnya, Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan serius rencana tersebut. Sumber dari media AS Axios, yang juga dikutip Al Jazeera, mengindikasikan bahwa langkah ini bertujuan utama untuk menekan Iran agar bersedia membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang kerap menjadi titik ketegangan.
Menurut laporan yang beredar, strategi yang dipertimbangkan mencakup periode sekitar satu bulan untuk melemahkan Iran melalui serangan, merebut pulau tersebut, dan kemudian menggunakannya sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi. Meskipun serangan awal akan menargetkan instalasi militer di pulau yang menangani hampir 90% ekspor minyak Iran itu, invasi darat akan menempatkan pasukan AS dalam jangkauan langsung serangan balasan dari Iran.
Di tengah eskalasi ini, militer AS telah menyetujui pengerahan pasukan tambahan ke wilayah tersebut. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump kepada Axios mengungkapkan, "Jika [Trump] memutuskan untuk melakukan invasi pantai, itu akan terjadi." Namun, pejabat tersebut menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai invasi tersebut hingga kini belum diambil.
Ini bukan kali pertama Trump mengeluarkan pernyataan keras terkait Pulau Kharg. Sebelumnya, ia pernah mengklaim bahwa militer AS telah membombardir target militer di pulau tersebut, bahkan mengancam akan menyerang infrastruktur minyaknya. Melalui media sosial, Trump pernah menyatakan, "Komando Pusat Amerika Serikat melakukan salah satu serangan bom paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah, dan benar-benar menghancurkan setiap target MILITER di permata mahkota Iran, Pulau Kharg."

