Kejutan melanda KTT BRICS di Brasil. Internationalmedia.co.id melaporkan, Presiden China Xi Jinping absen dari pertemuan puncak negara-negara anggota BRICS yang digelar di Rio de Janeiro. Ini merupakan kali pertama Xi absen dari acara penting tersebut, padahal selama ini ia menjadikan BRICS sebagai alat untuk membentuk ulang tatanan kekuatan global. Ketidakhadirannya menimbulkan pertanyaan besar di tengah situasi ekonomi global yang tak menentu.
Absennya Xi terjadi di saat krusial bagi BRICS. Beberapa anggota menghadapi tenggat waktu 9 Juli untuk menegosiasikan tarif AS yang diberlakukan Presiden Donald Trump. Tekanan ekonomi global akibat perubahan hubungan perdagangan AS semakin menambah beban, membuat BRICS harus menunjukkan solidaritas. Sebagai gantinya, Perdana Menteri China Li Qiang hadir mewakili Xi.

Bukan hanya Xi yang absen. Presiden Rusia Vladimir Putin hanya akan berpartisipasi secara virtual. Alasannya sama seperti saat ia absen di KTT BRICS Afrika Selatan tahun 2023: Brasil, seperti Afrika Selatan, adalah penanda tangan Statuta Roma, sehingga berpotensi menangkap Putin yang dituduh melakukan kejahatan perang di Ukraina.
Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dikonfirmasi hadir. Presiden Prabowo Subianto juga telah tiba di Brasil dan siap mengikuti KTT. Negara-negara mitra BRICS, termasuk calon anggota baru, juga mengirimkan delegasi. Keikutsertaan Arab Saudi sebagai anggota penuh masih belum pasti.
BRICS, yang diluncurkan pada 2009, diposisikan sebagai alternatif negara berkembang terhadap negara-negara maju G7. Presiden Brasil Lula da Silva sempat mengusulkan peningkatan opsi pembayaran untuk mengurangi kerentanan dan biaya. Rusia juga mendorong pengembangan sistem pembayaran lintas batas. Namun, gagasan mata uang BRICS yang diusulkan Lula pada 2023, dan sempat memicu kemarahan Trump, tampaknya tidak menjadi prioritas utama dalam KTT kali ini.
