Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim bin Jaber Al Thani, secara tegas menyatakan adanya "rasa pengkhianatan yang besar" oleh kepemimpinan Iran. Pernyataan ini muncul menyusul serangkaian serangan yang dilancarkan Republik Islam tersebut terhadap Qatar dan negara-negara Teluk lainnya. Demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News, mengutip wawancara eksklusif PM Qatar dengan Sky News, yang juga dilansir oleh Al Jazeera.
Menurut Sheikh Mohammed, serangan mendadak itu terjadi hanya sekitar satu jam setelah pecahnya konflik, di mana Qatar dan negara-negara Teluk lainnya langsung menjadi target.

Padahal, lanjutnya, serangan itu dilancarkan meskipun ada deklarasi tegas dari beberapa negara di kawasan tersebut yang menyatakan tidak akan terlibat dalam konflik melawan Iran. Bahkan, upaya diplomatik bersama untuk mencari solusi damai telah dilakukan secara intensif.
Sheikh Mohammed menegaskan, "Kesalahan perhitungan Iran dalam menyerang negara-negara Teluk telah menghancurkan segalanya." Ia menambahkan bahwa Qatar secara mutlak menolak segala bentuk pembenaran dan dalih yang digunakan untuk eskalasi konflik tersebut.
Yang lebih mengejutkan lagi, menurut Sheikh Mohammed, adalah berlanjutnya serangan Iran terhadap negara-negara Teluk, bahkan setelah Presiden Masoud Pezeshkian secara terbuka menyampaikan permintaan maaf dan menjanjikan bahwa mereka tidak akan lagi menjadi sasaran selama tidak menyerang Iran.
Meskipun demikian, di tengah kekecewaan mendalam ini, PM Qatar menekankan komitmen negaranya untuk "terus berbicara dengan Iran dan berupaya meredakan ketegangan" demi stabilitas regional.

