Internationalmedia.co.id – News – Sebuah dokumen mengejutkan yang baru saja dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengungkap rencana ambisius seorang rekan terpidana Jeffrey Epstein untuk mengakses miliaran dolar aset negara Libya yang dibekukan. Rencana gelap ini disebut melibatkan mantan pejabat intelijen dari Inggris dan Israel, menunjukkan jaringan yang jauh lebih luas dari dugaan sebelumnya.
Email tertanggal Juli 2011 yang dikirim kepada Epstein ini menguraikan apa yang digambarkan pengirimnya sebagai peluang finansial dan hukum yang menggiurkan. Ini muncul di tengah gejolak politik dan ekonomi yang melanda Libya kala itu, beberapa bulan setelah pemberontakan yang didukung NATO terhadap Presiden Muammar Gaddafi dimulai. Gaddafi sendiri tewas pada Oktober tahun yang sama, meninggalkan kekosongan kekuasaan dan ketidakpastian.

Menurut isi email tersebut, sekitar USD 80 miliar dana Libya diyakini dibekukan secara internasional, termasuk sekitar USD 32,4 miliar yang tersimpan di Amerika Serikat. Namun, angka sebenarnya diperkirakan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dari jumlah tersebut, mencakup aset negara yang dicuri dan disalahgunakan selama bertahun-tahun.
"Jika kita dapat mengidentifikasi dan memulihkan 5 hingga 10 persen dari uang ini, dan menerima 10 hingga 25 persen sebagai kompensasi, kita berbicara tentang potensi miliaran dolar," demikian kutipan dari dokumen tersebut, menggambarkan skala keuntungan yang mereka incar.
Untuk mewujudkan ambisi ini, pengirim email menyebutkan bahwa beberapa mantan anggota badan intelijen luar negeri Inggris, MI6, dan badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantu upaya identifikasi dan pemulihan "aset curian" tersebut.
Selain aset beku, email itu juga menyoroti peluang besar lainnya: rekonstruksi Libya. Negara tersebut diperkirakan akan membutuhkan setidaknya USD 100 miliar di masa depan untuk membangun kembali negaranya dan mendorong perekonomian yang hancur. "Daya tarik sebenarnya adalah jika kita bisa menjadi andalan mereka karena mereka berencana untuk menghabiskan setidaknya USD 100 miliar tahun depan untuk membangun kembali negara mereka dan mendorong perekonomian," tulis email tersebut.
Dokumen itu menggambarkan Libya sebagai negara dengan cadangan energi yang signifikan dan tingkat melek huruf yang tinggi, faktor-faktor yang dinilai dapat menguntungkan inisiatif keuangan dan hukum mereka. Diskusi juga telah diadakan dengan beberapa firma hukum internasional mengenai sistem pembayaran berdasarkan keberhasilan, menunjukkan keseriusan dan perencanaan matang di balik skema ini.
Terungkapnya email ini menambah lapisan baru pada skandal Jeffrey Epstein, menunjukkan bagaimana jaringannya meluas jauh melampaui kejahatan seksual yang dituduhkan kepadanya, menyentuh ranah geopolitik dan perebutan kekayaan negara. Informasi lebih lanjut akan terus disajikan oleh internationalmedia.co.id.

