Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan bahwa Iran kini berada dalam ‘masalah besar’, menyusul gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang intens di berbagai kota. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Washington tengah memantau situasi dengan cermat dan siap untuk bertindak.
Dalam keterangannya kepada awak media di Gedung Putih, usai pertemuan dengan sejumlah eksekutif perusahaan minyak AS, Trump menyoroti meluasnya kendali rakyat atas beberapa kota yang sebelumnya tak terbayangkan. "Menurut saya, rakyat sedang menguasai beberapa kota yang beberapa minggu lalu tidak pernah terpikirkan sebelumnya," kata Trump, seperti dilansir Al Arabiya pada Sabtu (10/1/2026). Ia juga memperingatkan otoritas Iran agar tidak menembaki para pengunjuk rasa.

Trump melanjutkan dengan ancaman bahwa AS "akan terlibat" dan "menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka," namun dengan cepat menambahkan bahwa ini tidak mencakup pengerahan pasukan darat. Ia menggambarkan aksi protes tersebut sebagai "sangat luar biasa" dan "fenomena yang menakjubkan untuk disaksikan."
Di sisi lain, gejolak di Iran telah berlangsung selama hampir dua minggu. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Jumat (9/1) menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan "mundur" menghadapi tantangan ini. Para demonstran, yang meneriakkan slogan "matilah diktator" dan membakar gedung-gedung resmi, telah menunjukkan penentangan kuat terhadap kepemimpinan Iran di berbagai kota besar.
Awalnya dipicu oleh krisis ekonomi, seperti inflasi yang melonjak dan anjloknya nilai mata uang rial terhadap dolar AS, protes ini kini telah bergeser menjadi lebih politis. Seruan menentang Khamenei menggema di Teheran dan kota-kota lain. Untuk meredam penyebaran kerusuhan dan bocornya video kekerasan, otoritas Iran memutus akses internet secara nasional pada Kamis sore waktu setempat, sebuah taktik yang sering digunakan dalam menghadapi protes sebelumnya, demikian laporan dari kelompok pemantau internet NetBlocks di media sosial X.
Menanggapi situasi ini, Iran juga telah mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan PBB, menuduh Amerika Serikat mengubah protes menjadi "tindakan kekerasan subversif dan vandalisme yang meluas," seperti dilaporkan BBC. Protes yang kini memasuki hari ke-13 ini merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, bahkan memicu seruan untuk mengakhiri Republik Islam dan mengembalikan sistem monarki. Data dari kelompok hak asasi manusia mencatat setidaknya 48 demonstran dan 14 personel keamanan telah kehilangan nyawa.

