Internationalmedia.co.id – News – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melayangkan peringatan tegas kepada Amerika Serikat dan Israel. Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News di Teheran pada Kamis (5/3), Araghchi menegaskan kesiapan Iran menghadapi potensi invasi darat dari AS, bahkan menyebutnya sebagai "bencana besar" bagi Washington. Pesan ini disampaikan di tengah eskalasi agresi yang terus-menerus terhadap Republik Islam tersebut.
Ketika ditanya apakah Iran gentar dengan kemungkinan serangan darat AS, Araghchi menjawab dengan lugas, "Tidak, kami menunggu mereka." Ia menambahkan, "Karena kami yakin bahwa kami dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka." Pernyataan ini, seperti dilansir Press TV pada Jumat (6/3), menggarisbawahi kepercayaan diri militer Iran yang telah mempersiapkan diri untuk setiap skenario yang mungkin terjadi.

Komentar Araghchi muncul di tengah meluasnya konflik yang dimulai dengan agresi besar-besaran oleh AS dan Israel sejak Sabtu (28/2). Ia menekankan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata dan tetap teguh dalam komitmennya untuk melawan agresi tersebut. Mengingat kembali perang 12 hari pada Juni tahun lalu, Araghchi menyebutkan bahwa justru Israel yang pada akhirnya meminta gencatan senjata setelah Iran berhasil menahan serangan mereka terhadap fasilitas nuklir.
Araghchi juga menyoroti insiden tragis serangan AS-Israel terhadap sebuah Sekolah Dasar di Minab, Iran selatan, yang merenggut nyawa 171 anak-anak. Ia sepenuhnya membebankan tanggung jawab atas serangan keji ini kepada militer AS dan Israel, mempertanyakan perbedaan antara keduanya dalam melakukan pelanggaran berat terhadap warga sipil tak berdosa.
Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri Iran itu mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap pengalaman negosiasi dengan Amerika Serikat, khususnya di bawah pemerintahan saat ini. "Faktanya adalah kita tidak memiliki pengalaman positif dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat… terutama dengan pemerintahan ini," ujar Araghchi. Ia menuding AS melakukan pengkhianatan berulang kali, dengan menyerang Iran di tengah proses negosiasi yang telah dilakukan dua kali tahun lalu dan tahun ini. Oleh karena itu, Araghchi melihat tidak ada alasan untuk kembali terlibat dengan pihak yang bernegosiasi dengan itikad buruk.

