Kawasan Asia Selatan kembali bergejolak menyusul eskalasi konflik antara Afghanistan dan Pakistan. Di tengah memanasnya situasi yang bahkan disebut sebagai "perang terbuka" oleh Islamabad, Iran sigap menawarkan diri sebagai mediator. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa tawaran ini datang menyusul serangkaian pertempuran sengit yang pecah pekan ini. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara resmi menyampaikan kesediaan Teheran untuk memfasilitasi dialog damai antara kedua negara bertetangga tersebut.
Ketegangan terbaru ini meledak setelah Pakistan melancarkan serangan udara masif ke beberapa wilayah Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, pada Jumat (27/2) pagi. Aksi militer Pakistan diklaim sebagai respons atas serangan yang dilancarkan pasukan Afghanistan sehari sebelumnya, Kamis (26/2) malam. Namun, otoritas Taliban di Kabul bersikeras bahwa serangan mereka pada Kamis itu adalah balasan atas serangan udara mematikan yang dilakukan Pakistan sebelumnya, menciptakan spiral kekerasan yang sulit dihentikan.

Kedua belah pihak saling mengklaim kemenangan dan menimbulkan kerugian besar bagi lawan. Pakistan mengumumkan telah menewaskan 133 petempur Taliban Afghanistan, sementara Taliban membalas dengan klaim 55 tentara Pakistan tewas dan beberapa lainnya ditangkap hidup-hidup. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, tak ragu menyebut situasi ini sebagai "konfrontasi habis-habisan" dan bahkan menyatakan "perang terbuka" dengan pemerintah Taliban. Asif menegaskan, "Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda," merujuk pada tuduhan Pakistan bahwa Afghanistan melindungi militan yang menyerang wilayah perbatasan mereka, tuduhan yang dibantah keras oleh Taliban.
Dalam pernyataan yang diunggah via media sosial X, Menlu Araghchi menegaskan, "Republik Islam Iran siap memberikan bantuan apa pun yang diperlukan untuk memfasilitasi dialog, dan meningkatkan kesepahaman dan kerja sama antara kedua negara." Posisi Iran sebagai negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Pakistan dan Afghanistan, serta memiliki hubungan dekat dengan Islamabad dan keterlibatan dengan otoritas Taliban (meskipun belum mengakui secara resmi), menempatkannya sebagai mediator potensial yang strategis dalam meredakan ketegangan yang mematikan ini.
Ini bukan kali pertama Teheran menawarkan diri sebagai penengah. Pada Oktober tahun lalu, Iran juga sempat mengajukan diri saat pertempuran serupa pecah. Gencatan senjata yang rapuh sempat berlaku sejak Oktober, dimediasi oleh Qatar dan Turki, menyusul gelombang kekerasan lintas perbatasan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Kini, dengan kembali pecahnya konflik dan deklarasi "perang terbuka", peran mediator menjadi semakin krusial untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan yang sudah rapuh ini.
Saksikan informasi terkini lainnya di internationalmedia.co.id.
(nvc/ita)

