Internationalmedia.co.id – News — Kabar mengejutkan datang dari Iran. Pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, diisukan mengalami luka parah akibat serangan dan kini dilaporkan menjalani operasi rahasia di Rusia. Evakuasi darurat ini dilakukan di tengah spekulasi luas mengenai kondisinya, menyusul pengangkatannya sebagai pengganti mendiang ayahnya.
Menurut laporan surat kabar Kuwait, Al-Jarida, Mojtaba dievakuasi secara rahasia dari sebuah bunker yang menjadi sasaran serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut diklaim telah merenggut nyawa ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei, serta ibu, istri, dan putra Mojtaba. Dalam kondisi terluka parah, Mojtaba kemudian "diselundupkan" keluar dari Iran menuju Moskow menggunakan pesawat militer Rusia. Informasi ini, seperti dilansir Metro.co.uk pada Senin (16/3/2026), menyebutkan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menyelamatkan nyawanya.

Setibanya di ibu kota Rusia, Mojtaba dilaporkan menjalani operasi vital di salah satu istana kepresidenan milik Presiden Vladimir Putin. Laporan Al-Jarida mengindikasikan operasi tersebut berjalan "sukses". Meskipun demikian, detail mengenai tingkat keparahan lukanya masih simpang siur, mulai dari patah kaki dan luka gores di wajah, hingga spekulasi yang lebih ekstrem seperti kehilangan satu kaki atau bahkan kondisi koma. Sumber Al-Jarida yang belum diverifikasi kebenarannya berasal dari "pejabat tinggi yang dekat dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru". Hingga kini, Teheran belum memberikan tanggapan langsung terhadap laporan media tersebut.
Di tengah riuhnya spekulasi ini, otoritas Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Mojtaba Khamenei dalam keadaan sehat dan sepenuhnya memantau situasi. Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengatakan mendengar informasi bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru itu telah meninggal dunia.
Mojtaba sendiri baru diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 1 Maret, menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari. Namun, sejak pengangkatannya, ia belum sekalipun tampil di hadapan publik Iran. Pernyataan pertamanya pada 12 Maret lalu bahkan harus dibacakan oleh seorang presenter televisi pemerintah. Dalam pernyataan tertulisnya yang penuh amarah, Mojtaba bersumpah untuk membalas dendam terhadap AS dan Israel, menegaskan tidak akan menahan diri untuk membalas "darah para martir". Ia juga mengancam akan menutup Selat Hormuz dan menyerukan negara-negara tetangga Iran untuk menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka, atau berisiko menjadi sasaran serangan Teheran.

