Serangan mematikan kembali mengguncang sebuah pangkalan militer di wilayah barat Irak, menewaskan tujuh personel keamanan. Peristiwa tragis ini terjadi pada Rabu, hanya sehari setelah insiden serupa yang merenggut banyak nyawa di lokasi yang sama. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Kementerian Pertahanan Irak mengonfirmasi serangan tersebut, yang menambah daftar panjang ketegangan di negara itu.
Menurut laporan dari AFP yang dikutip oleh internationalmedia.co.id, tujuh personel keamanan gugur dan 13 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang menargetkan pangkalan di Provinsi Anbar. Pangkalan tersebut diketahui menjadi markas bagi pasukan keamanan reguler Irak serta anggota Hashed al-Shaabi, atau yang dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Populer (PMF).

Serangan udara tersebut tidak hanya menghantam area umum pangkalan, namun juga dilaporkan mengenai fasilitas klinik militer di dalamnya. Kementerian Pertahanan Irak mengecam keras insiden ini, menyebutnya sebagai "pelanggaran mencolok dan berbahaya terhadap hukum internasional, yang secara tegas melarang penargetan fasilitas medis dan personelnya." Operasi penyelamatan masih terus berlangsung untuk mencari korban lain.
Seorang pejabat keamanan mengungkapkan bahwa seorang dokter militer termasuk di antara korban tewas, sementara enam korban luka berasal dari kelompok PMF. Serangan ini terjadi hanya sehari setelah insiden mematikan pada Selasa sebelumnya di pangkalan yang sama, yang menewaskan 15 anggota PMF, termasuk seorang komandan penting. Insiden tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan di Irak dalam eskalasi konflik regional baru-baru ini.
Pemerintah Irak menyatakan akan segera mengajukan pengaduan resmi ke Dewan Keamanan PBB terkait serangan terbaru ini, menggarisbawahi keseriusan situasi. Di sisi lain, PMF secara terbuka menuding Amerika Serikat sebagai dalang di balik serangan sebelumnya. Pentagon sendiri mengakui bahwa helikopter tempur AS memang melakukan serangan terhadap kelompok bersenjata pro-Iran di Irak dalam konteks konflik yang sedang berlangsung.
Irak sendiri menegaskan kutukannya terhadap semua bentuk serangan, baik yang menargetkan kepentingan asing maupun posisi pasukan dalam negeri. Ketegangan di Irak memang telah meningkat tajam menyusul konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, yang kemudian dengan cepat meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah, menjadikan kawasan ini semakin bergejolak.

