Internationalmedia.co.id – News – Mengungkap perjalanan panjang perumusan dasar negara, Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abidin Fikri, baru-baru ini memaparkan dinamika historis di balik kelahiran Pancasila. Abidin menegaskan bahwa ideologi fundamental Indonesia ini merupakan hasil dari konsensus mendalam para pendiri bangsa, bukan sekadar gagasan tunggal yang serta-merta diterima.
Dalam keterangannya pada 16 Agustus 2026, Abidin Fikri menjelaskan bahwa cikal bakal Pancasila telah dibahas serius oleh para pendiri bangsa yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Diskusi krusial mengenai dasar negara ini berlangsung dari 29 Mei hingga 1 Juni 1945, menjelang proklamasi kemerdekaan.

Puncaknya, pada 1 Juni 1945, Soekarno mengemukakan lima prinsip dasar yang diusulkan sebagai fondasi Indonesia merdeka, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Lima gagasan krusial tersebut meliputi Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme (Perikemanusiaan), Mufakat (Demokrasi), Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Inilah gagasan Bung Karno yang diterima BPUPKI dan disempurnakan oleh Panitia Sembilan menjadi Piagam Jakarta pada 22 Juni," terang Abidin. Namun, perjalanan Pancasila tidak berhenti di situ. "Pada sore hari tanggal 17 Agustus 1945, sila pertama Pancasila versi Piagam Jakarta, yaitu Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, mendapat tentangan dari masyarakat Indonesia timur. Sehingga, ketika konstitusi ditetapkan pada 18 Agustus 1945, sila pertama Pancasila berubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa," jelas Abidin, menyoroti momen penting dalam sejarah bangsa.
Pemaparan sejarah ini disampaikan Abidin di hadapan sekitar 250 guru PAUD Persatuan Islam Istri dari wilayah Bandung Raya, Garut, dan Sumedang. Acara yang digelar di Bandung pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tersebut merupakan bagian dari Sosialisasi Empat Pilar Berbasis Komunitas, sebuah kolaborasi antara Badan Sosialisasi MPR dengan PP Persatuan Islam Istri. Para peserta berkumpul untuk mendalami usulan tiga tokoh pergerakan yang mengusulkan dasar negara, yakni Moh. Yamin, Soepomo, dan Soekarno.
Melihat proses pembentukannya yang panjang dan melibatkan berbagai pandangan kelompok, Abidin Fikri menilai sangat tepat jika Nahdlatul Ulama (NU) menyebut Pancasila sebagai kalimatun Sawa, yang bermakna kesepakatan. "Karena itu, sewajarnya jika Pancasila selalu dijaga dan dilestarikan sebagai buah dari kesepakatan para pendiri bangsa, sebagaimana bentuk negara NKRI yang juga senantiasa dipertahankan dari penyelewengan," tegasnya.
Abidin juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk merawat warisan berharga ini, meneladani kegigihan M. Natsir yang gigih mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari rongrongan penjajah Belanda. "Bentuk negara NKRI pernah diganti menjadi RIS, sesuai keputusan Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949. Tetapi keputusan tersebut ditentang oleh M. Natsir, melalui Mosi Integral Natsir yang disampaikan di hadapan rapat parlemen RIS pada 3 April 1950. Usulan tersebut diterima, sehingga bentuk negara Indonesia kembali ke NKRI, maka selamatlah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945," kenangnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, menambahkan bahwa proses pembentukan Empat Pilar MPR RI melalui tahapan yang tidak mudah. Namun, tantangan sesungguhnya adalah mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Badan Komunikasi MPR RI aktif menjalin berbagai kerja sama, termasuk dengan PP Persatuan Islam Istri, untuk melaksanakan Sosialisasi Empat Pilar Berbasis Komunitas.
"Harapannya, kesepakatan yang sudah diambil oleh para pendiri bangsa bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Abraham.
Abraham menganalogikan Pancasila sebagai dasar dan fondasi yang sangat kuat, layaknya sebuah rumah. Dengan fondasi yang kokoh tersebut, struktur bangunan di atasnya dapat tersusun rapi dan indah, serta tidak mudah goyang atau rusak meskipun diterpa gempa dan berbagai cobaan lainnya.
"Kita sudah berpengalaman menghadapi segala percobaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dasar dan fondasi rumah Indonesia ini kuat, maka kita semuanya juga selamat. Karena itu, mari kita jaga dan lestarikan Empat Pilar, dengan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," pungkas Abraham, menyerukan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur bangsa.
