Internationalmedia.co.id – News – Gelombang kekerasan mengguncang wilayah barat laut Pakistan pada Senin, 16 Februari, menyebabkan sedikitnya 17 orang tewas dalam serangkaian ledakan bom dan baku tembak sengit antara pasukan keamanan dan kelompok militan. Insiden mematikan ini terjadi di provinsi Khyber Pakhtunkhwa, menambah daftar panjang kekerasan yang melanda negara tersebut.
Korban tewas terdiri dari 14 personel keamanan dan tiga warga sipil, termasuk seorang anak kecil. Selain itu, puluhan orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam berbagai insiden yang menargetkan pos pemeriksaan dan kantor polisi.

Salah satu serangan paling mematikan terjadi di distrik Bajaur, di mana militan menabrakkan kendaraan bermuatan bahan peledak ke dinding dekat pos pemeriksaan. Aksi brutal ini merenggut nyawa 11 personel keamanan dan seorang gadis kecil yang tak berdosa. Ledakan dahsyat tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan parah pada bangunan tempat tinggal di sekitarnya tetapi juga melukai tujuh warga sipil lainnya. Militer Pakistan dengan tegas mengutuk insiden ini sebagai ‘serangan teroris pengecut’ dan menuduh kelompok ‘proksi India’ berada di baliknya, seraya menambahkan bahwa pasukan keamanan berhasil menewaskan belasan militan saat mereka mencoba melarikan diri dari lokasi kejadian.
Di kota Bannu, insiden terpisah juga merenggut korban jiwa. Sebuah bom yang disembunyikan di dalam becak meledak di dekat kantor polisi Miryan, menewaskan dua warga sipil dan melukai 17 orang lainnya.
Sementara itu, di distrik Shangla, provinsi yang sama, operasi pencarian yang dilakukan kepolisian Khyber Pakhtunkhwa berakhir dengan baku tembak. Tiga personel polisi dan tiga militan tewas dalam insiden tersebut. Pihak kepolisian menyatakan bahwa militan yang tewas terlibat dalam ‘serangan yang menargetkan warga negara China’.
Hubungan ini menyoroti kerentanan proyek-proyek yang didanai China di Pakistan. Beijing telah menginvestasikan miliaran dolar dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) sebagai bagian dari skema ‘Belt and Road’ transnasional. Namun, proyek-proyek infrastruktur besar ini seringkali memicu kebencian di kalangan lokal dan warga negara China kerap menjadi sasaran serangan.
Sebagai contoh, pada Maret tahun lalu, lima warga negara China yang bekerja di lokasi pembangunan bendungan besar tewas bersama sopir mereka setelah seorang pelaku bom bunuh diri menargetkan kendaraan mereka, yang kemudian terjatuh ke jurang dalam di jalan raya pegunungan Karakoram.
Serangan-serangan ini terjadi di tengah gelombang ketidakstabilan yang lebih luas. Bulan ini, kelompok Negara Islam (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas ledakan bom bunuh diri besar-besaran di sebuah masjid Syiah di ibu kota Islamabad, yang menewaskan 31 orang dan melukai 169 lainnya, menunjukkan ancaman keamanan yang terus-menerus di seluruh negeri. Insiden-insiden terbaru ini menggarisbawahi tantangan keamanan serius yang dihadapi Pakistan, terutama di wilayah perbatasan yang bergejolak, di mana kelompok-kelompok militan terus melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan dan warga sipil.

