Internationalmedia.co.id melaporkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara mengejutkan mencalonkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk meraih Hadiah Nobel Perdamaian. Surat pencalonan tersebut telah dikirimkan ke komite Nobel. Netanyahu menyatakan, "Ia tengah menempa perdamaian saat kita berbicara, di satu negara, di satu kawasan demi kawasan," saat makan malam bersama Trump di Gedung Putih, Senin (7/7) lalu.
Ini bukan kali pertama Trump dinominasikan untuk penghargaan bergengsi tersebut. Sejumlah anggota parlemen dari berbagai negara, seperti Norwegia, Swedia, dan Estonia, sebelumnya juga mengajukan nama Trump atas berbagai kontribusinya, termasuk upaya penyelesaian ketegangan nuklir Korea Utara dan perundingan damai antara Kosovo dan Serbia. Seorang anggota parlemen Estonia bahkan menyebut Trump sebagai presiden AS pertama dalam tiga puluh tahun terakhir yang tidak memulai perang. Mereka juga menunjuk keberhasilan Perjanjian Abraham yang menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab sebagai salah satu alasan pencalonan.

Meskipun demikian, Trump sendiri telah beberapa kali mengungkapkan kekecewaannya karena belum menerima Nobel Perdamaian. Ia bahkan menuntut pengakuan atas perannya dalam konflik India-Pakistan, Serbia-Kosovo, dan perannya sebagai penengah dalam konflik Mesir-Ethiopia. Saat ini, Trump gencar mengkampanyekan dirinya sebagai "pembawa perdamaian", menawarkan keahlian negosiasinya untuk mengakhiri perang di Ukraina dan Gaza, kendati kedua konflik tersebut masih berlangsung.
Terkait konflik Gaza, Trump optimis Hamas akan menyetujui gencatan senjata. Pernyataan tersebut disampaikannya saat bertemu Netanyahu di Gedung Putih. Trump bahkan menilai tidak ada hambatan berarti untuk mencapai kesepakatan damai. Sementara itu, Netanyahu menyatakan kerja sama dengan AS untuk mencari negara-negara yang dapat memberikan masa depan lebih baik bagi warga Palestina, menekankan bahwa warga Palestina yang ingin tinggal dapat tetap tinggal, dan mereka yang ingin pergi dapat pergi.
Di sisi lain, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyampaikan terima kasih kepada Trump atas peran dalam gencatan senjata dengan Iran. Danon menegaskan kembali komitmen Israel untuk menanggapi tegas setiap pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Iran, menyusul pengumuman berakhirnya perang 12 hari antara Israel dan Iran oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Pemerintah Israel menyatakan telah mencapai semua tujuan operasi militernya dan lebih banyak lagi.
