Konflik geopolitik di Timur Tengah semakin memanas, melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam pusaran permusuhan yang tak berkesudahan. Teheran secara terang-terangan menyatakan tekadnya untuk memburu dan melenyapkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi luas mengenai keberadaan Netanyahu, terutama setelah sebuah video pada 13 Maret menimbulkan kecurigaan publik. Dalam video tersebut, Netanyahu terlihat memiliki enam jari di salah satu tangannya, memicu dugaan kuat penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk manipulasi. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan ini menandai babak baru dalam permusuhan yang telah berlangsung lama.
Melalui situs web resminya, Sepah News, Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan kembali ancaman tersebut. "Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh," demikian pernyataan tegas IRGC yang dikutip AFP pada Minggu (15/3). Ancaman ini semakin memperkeruh situasi di kawasan yang sudah bergejolak.

Eskalasi konflik ini bermula dari serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada akhir Februari lalu. Agresi tersebut dilaporkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan masif, menargetkan Israel, pangkalan militer AS di kawasan Teluk, serta mengancam penutupan Selat Hormuz. Selama periode serangan balasan Iran yang intens ini, Perdana Menteri Netanyahu dilaporkan sempat ‘menghilang’ dari pandangan publik, memicu berbagai spekulasi.
Namun, Netanyahu tiba-tiba muncul kembali ke hadapan publik untuk pertama kalinya sejak dimulainya konflik dengan Iran. Dalam kemunculannya pada Jumat (13/3) yang dilansir Reuters, ia berdiri di antara dua bendera Israel dan menjawab pertanyaan melalui tautan video. Tanpa basa-basi, Netanyahu langsung melontarkan ancaman balasan, bersumpah untuk melenyapkan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Dalam konferensi persnya, Netanyahu mengklaim bahwa Iran "tidak lagi sama" setelah hampir dua minggu pemboman intensif, seraya menambahkan bahwa Garda Revolusi dan pasukan paramiliter Basij telah mengalami kerugian signifikan. Ia juga bersumpah akan melanjutkan serangan terhadap Hizbullah Lebanon, sebagai balasan atas agresi mereka pada Senin (2/3) lalu. Ketika didesak mengenai langkah konkret Israel terhadap Iran dan Hizbullah, Netanyahu menolak untuk merinci. "Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun… Saya tidak bermaksud memberikan laporan pasti di sini tentang apa yang kami rencanakan atau apa yang akan kami lakukan," tegasnya.
Di tengah raungan sirene peringatan rudal Iran yang menggema di sebagian besar wilayah tengah Israel, Netanyahu menjelaskan tujuan utama serangannya terhadap Teheran. Ia menyatakan bahwa Israel bertekad untuk menghilangkan apa yang dianggapnya sebagai ancaman eksistensial dari program nuklir dan rudal balistik Iran. Selain itu, Israel juga berambisi memicu keruntuhan pemerintahan Iran dengan mendorong rakyatnya untuk bangkit melakukan revolusi.
Ketika disinggung apakah Israel mempersenjatai kelompok oposisi Iran dan potensi kegagalan dalam menggulingkan rezim, Netanyahu mengakui bahwa meskipun pemerintah tidak jatuh, setidaknya akan melemah. "Saya tidak akan merinci tindakan yang sedang kami ambil. Kami sedang menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim, tetapi saya tidak akan menyangkal bahwa saya tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa rakyat Iran akan menggulingkan rezim tersebut – sebuah rezim digulingkan dari dalam," jelas Netanyahu. Ia menambahkan, "Tapi kami pasti bisa membantu dan kami memang sedang membantu."

