Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Teheran diguncang kabar duka menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia dilaporkan meninggal dunia akibat serangan yang diduga dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Kematian sosok yang telah memimpin Republik Islam dengan tangan besi selama hampir empat dekade ini segera memicu pertanyaan besar: siapa yang akan menjadi penerusnya dan bagaimana masa depan Iran akan terbentuk?
Menurut laporan Al-Jazeera dan CNN yang diterima pada Minggu (1/3/2026), rezim ulama Iran kini dihadapkan pada tugas berat mencari pengganti Khamenei. Pemimpin veteran ini tidak pernah secara resmi mengumumkan penerusnya. Sebaliknya, sebuah badan terpilih yang beranggotakan 88 ulama senior, dikenal sebagai Majelis Pakar, akan mengemban amanah untuk memilih pemimpin baru. Tugas ini sangat krusial dan baru pernah dilakukan sekali sejak Republik Islam berdiri pada tahun 1979, yaitu ketika Khamenei sendiri terpilih secara tergesa-gesa setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini lebih dari tiga dekade silam.

Pemerintah Iran diperkirakan akan berupaya keras untuk segera menunjukkan stabilitas di negara tersebut. Anggota Majelis Pakar diharapkan segera berkumpul untuk membahas calon-calon potensial sebelum menunjuk pengganti Khamenei. Namun, keputusan untuk mengadakan pertemuan ini bukanlah tanpa risiko, mengingat Presiden AS Donald Trump telah bersumpah bahwa pengeboman yang menargetkan rezim tersebut akan terus berlanjut.
Para ahli hukum di Majelis Pakar harus memilih pengganti yang memenuhi kualifikasi ketat yang ditetapkan dalam konstitusi. Pemimpin baru tersebut wajib seorang laki-laki, ulama dengan kompetensi politik, memiliki otoritas moral, dan loyalitas yang teguh kepada Republik Islam. Majelis memiliki kewenangan untuk menafsirkan aturan ini, yang berpotensi mengecualikan ulama reformis yang cenderung mendukung kebebasan sosial yang lebih besar dan keterlibatan dengan dunia luar.
Al-Jazeera sempat melaporkan bahwa sebelum kematiannya, Ali Khamenei telah memberikan empat nama sebagai calon penerus. Namun, hingga kini belum ada informasi resmi mengenai identitas keempat nama tersebut. Sebagai langkah sementara, Iran telah membentuk dewan beranggotakan tiga orang yang terdiri dari presiden negara, kepala kehakiman, dan salah satu ahli hukum Dewan Penjaga Konstitusi. Dewan ini akan sementara waktu mengambil alih semua tugas kepemimpinan di Iran.
Sementara itu, CNN juga mengulas beberapa kandidat yang menurut para ahli dan analis berpotensi besar menjadi penerus Khamenei. Berikut adalah daftar nama-nama yang menjadi sorotan:
Mojtaba Khamenei
Putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei (56), dikenal memiliki pengaruh signifikan di balik layar. Ia memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), badan militer paling kuat di negara itu, serta pasukan paramiliter sukarelawan Basij. Namun, suksesi dari ayah ke anak kurang disukai di kalangan ulama Muslim Syiah, khususnya di Iran revolusioner yang muncul setelah penggulingan monarki yang sangat dibenci. Hambatan tambahan adalah Mojtaba bukanlah ulama berpangkat tinggi dan tidak memiliki peran resmi dalam rezim tersebut. Ia juga telah dikenai sanksi oleh AS pada tahun 2019.
Alireza Arafi
Sebagai tokoh yang kurang dikenal secara luas, Alireza Arafi (67) adalah seorang ulama terkemuka dengan rekam jejak di lembaga pemerintahan dan merupakan orang kepercayaan Khamenei. Saat ini, ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar dan telah menjadi anggota Dewan Penjaga yang berpengaruh, yang memeriksa calon pemilihan dan undang-undang yang disahkan oleh parlemen. Ia juga mengepalai sistem seminari Iran. Alex Vatanka dari Middle East Institute menyebut kesediaan Khamenei untuk menunjuk Arafi ke posisi senior dan strategis menunjukkan bahwa ia memiliki ‘kepercayaan yang besar pada kemampuan birokrasinya’. Namun, Arafi tidak dikenal sebagai tokoh politik berpengaruh dan tidak memiliki hubungan dekat dengan lembaga keamanan. Ia disebut mahir dalam bidang teknologi dan fasih berbahasa Arab serta Inggris, serta produktif menulis dengan menerbitkan 24 buku dan artikel.
Mohammad Mehdi Mirbagheri
Mirbagheri (60) adalah ulama garis keras dan anggota Majelis Pakar yang mewakili sayap paling konservatif dari kalangan ulama. Baru-baru ini dilaporkan bahwa ia membenarkan tingginya angka kematian dalam perang Israel di Gaza dengan mengatakan bahwa kematian bahkan setengah dari populasi dunia ‘layak’ jika itu mencapai kedekatan dengan Tuhan. Menurut IranWire, sebuah media aktivis, ia sangat menentang Barat dan percaya bahwa konflik antara orang beriman dan orang kafir tidak dapat dihindari. Saat ini, ia memimpin Akademi Ilmu-Ilmu Islam di kota suci Qom.
Hassan Khomeini
Hassan Khomeini (50) adalah cucu dari pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memberinya legitimasi religius dan revolusioner yang kuat. Ia bertugas sebagai penjaga mausoleum Khomeini tetapi belum pernah memegang jabatan publik dan tampaknya memiliki sedikit pengaruh terhadap aparat keamanan negara atau elit penguasa. Ia dikenal kurang garis keras dibandingkan banyak rekan-rekannya dan dilarang mencalonkan diri untuk Majelis Pakar pada tahun 2016.
Hashem Hosseini Bushehri
Bushehri (60-an) adalah seorang ulama senior yang terkait erat dengan lembaga-lembaga yang mengelola suksesi, khususnya Majelis Pakar, di mana ia menjabat sebagai wakil ketua pertama. Ia disebut dekat dengan Khamenei tetapi memiliki profil rendah di dalam negeri dan tidak dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan IRGC.
Proses suksesi ini akan menjadi ujian berat bagi stabilitas Iran, dengan berbagai kandidat memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing di tengah ketegangan geopolitik yang memanas. Dunia akan menanti siapa yang akan memimpin Iran selanjutnya.

