Pernyataan kontroversial Menteri Tenaga Kerja Kuba, Marta Elena Feito, yang menyebut para pengemis hanya berpura-pura miskin telah menggemparkan publik. Internationalmedia.co.id melaporkan, pernyataan tersebut disampaikan Feito saat rapat komite parlemen yang membahas penanggulangan kemiskinan. Akibatnya, Feito harus mengundurkan diri dari jabatannya.
Pernyataan Feito yang menyebut para pengamen dan mereka yang mengais sampah di Havana sebagai penipu yang menyamar, langsung menuai kecaman luas. Ia bahkan mengatakan, "Di Kuba, tidak ada pengemis." Pernyataan ini dinilai sangat tidak sensitif mengingat kondisi ekonomi Kuba yang sedang terpuruk. Inflasi yang tak terkendali, upah rendah, dan kelangkaan pangan memaksa banyak warga Kuba untuk mencari makan dari tempat sampah.

Setelah hujatan membanjiri media sosial, di mana warganet membanjiri platform dengan foto-foto orang-orang yang mencari makanan di tong sampah, Feito mengakui kesalahannya dan mengajukan pengunduran diri pada Selasa (15/7). Media pemerintah Kuba melaporkan bahwa Feito mengakui komentarnya menunjukkan "kurangnya objektivitas dan kepekaan".
Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, turut berkomentar melalui media sosial X, mengecam kurangnya kepekaan Feito. Diaz-Canel menegaskan bahwa tidak ada yang boleh bersikap arogan dan pura-pura menutup mata terhadap realita yang terjadi. Ia menekankan bahwa para pengemis merupakan cerminan nyata dari ketimpangan sosial dan masalah yang dihadapi Kuba.
Kuba memang tengah menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam tiga dekade terakhir. Kelangkaan pangan, obat-obatan, dan bahan bakar, serta pemadaman listrik yang sering terjadi, telah meningkatkan angka kemiskinan secara drastis. Para pengamat menilai krisis ini disebabkan oleh kombinasi sanksi Amerika Serikat, kesalahan pengelolaan ekonomi domestik, dan dampak pandemi COVID-19 terhadap industri pariwisata Kuba. Tahun lalu, pemerintah Kuba melaporkan terdapat 189.000 keluarga dan 350.000 individu yang hidup dalam kondisi rentan dan membutuhkan bantuan sosial. Pengunduran diri Feito menjadi sorotan tajam atas krisis kemanusiaan yang tengah melanda Kuba.
