Teheran diguncang kabar penting. Setelah periode transisi pasca-wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Iran kini secara resmi memiliki Pemimpin Tertinggi yang baru, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. Penunjukan ini segera diikuti oleh deklarasi kesetiaan penuh dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah pilar kekuatan militer dan politik negara itu. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pernyataan kesetiaan tersebut menggarisbawahi dukungan kuat terhadap kepemimpinan yang baru.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip berbagai kantor berita pada Senin, IRGC menegaskan komitmen mereka untuk "patuh sepenuhnya dan berkorban dalam melaksanakan perintah ilahi dari Ahli Hukum Pelindung zaman ini, Yang Mulia Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei." Pengangkatan Mojtaba sendiri telah diratifikasi secara resmi oleh Majelis Pakar, sebuah badan kunci yang bertanggung jawab memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi. Nama Mojtaba memang telah lama disebut-sebut sebagai kandidat paling kuat untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dari ayahnya.

Namun, transisi kepemimpinan ini tidak luput dari perhatian tajam Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dengan tegas menyatakan bahwa militer negaranya akan terus memantau dan tidak segan mengambil tindakan ekstrem terhadap pemimpin baru Iran. Dalam pernyataannya yang dilansir Al Jazeera pada Rabu, Katz menegaskan, "Setiap pemimpin yang ditunjuk oleh rezim Iran untuk terus memimpin rencana menghancurkan Israel, mengancam AS dan dunia bebas serta negara-negara di kawasan ini, dan menindas rakyat Iran, akan menjadi target yang jelas untuk dieliminasi." Ia menambahkan ancaman tersebut berlaku "tidak peduli siapa namanya atau di mana dia bersembunyi," mengindikasikan kebijakan tanpa kompromi dari Tel Aviv.
Penunjukan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru ini diperkirakan akan membentuk arah kebijakan domestik dan luar negeri Iran di masa mendatang, terutama dalam konteks ketegangan yang terus memanas dengan Israel dan negara-negara Barat. Dunia kini menanti bagaimana kepemimpinan baru ini akan menavigasi kompleksitas geopolitik Timur Tengah.

