Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home » Masa Depan Iran Pasca Khamenei Putra Shah Beri Sinyal
Trending Indonesia

Masa Depan Iran Pasca Khamenei Putra Shah Beri Sinyal

GunawatiBy Gunawati01-03-2026 - 12.45Tidak ada komentar3 Mins Read0 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Masa Depan Iran Pasca Khamenei Putra Shah Beri Sinyal
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Los Angeles – Internationalmedia.co.id – News – Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang kini hidup dalam pengasingan di Los Angeles, Amerika Serikat, menyampaikan seruan yang menggema menyusul kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pahlavi, bersama putrinya, mendesak rakyat Iran untuk bersiap menghadapi babak baru, menegaskan bahwa era Republik Islam telah usai.

Dilansir dari New York Post dan akun X resmi Reza Pahlavi, yang dilaporkan pada Minggu (1/3/2026), Pahlavi, yang telah bermukim di AS sejak Revolusi Iran tahun 1979, menanggapi kabar duka sekaligus penuh kontroversi mengenai wafatnya Khamenei setelah serangan udara yang diklaim dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Dengan nada tajam, ia menyebut Khamenei sebagai "Zahhak yang haus darah di zaman kita," merujuk pada sosok raja jahat dalam mitologi Iran, serta "pembunuh puluhan ribu putra dan putri Iran yang paling berani."

Masa Depan Iran Pasca Khamenei Putra Shah Beri Sinyal
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah," tulis Pahlavi di platform X. Ia menegaskan bahwa setiap upaya rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei "pasti gagal," sebab mereka tidak akan memiliki legitimasi dan terlibat dalam rentetan kejahatan rezim tersebut.

Tidak hanya itu, Pangeran dalam pengasingan ini juga melayangkan peringatan serius kepada aparat militer, keamanan, dan kepolisian di dalam negeri Iran. Ia mendesak mereka untuk tidak lagi mendukung rezim yang berkuasa, melainkan bergabung dengan rakyat untuk membantu memastikan transisi Iran yang stabil menuju masa depan yang bebas dan makmur.

Pahlavi menyatakan bahwa kematian Khamenei merupakan "momen perayaan nasional yang monumental" bagi Iran. Ia mengajak seluruh warga Iran untuk tetap siaga dan bersatu. "Waktu untuk kehadiran besar-besaran dan tegas di jalanan sudah sangat dekat. Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mengamankan kemenangan akhir, dan kita akan merayakan kemerdekaan Iran di seluruh tanah air kita yang diciptakan oleh Ahura. Hidup Iran!" serunya penuh semangat.

Untuk diketahui, Ayatollah Ali Khamenei sendiri naik ke tampuk kepemimpinan Iran pada tahun 1989, menyusul wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik yang memimpin revolusi Islam satu dekade sebelumnya. Meski Khomeini dikenal sebagai arsitek ideologis revolusi yang menumbangkan monarki Pahlavi, Khamenei justru yang berperan sentral dalam membentuk struktur militer dan paramiliter yang menjadi tulang punggung pertahanan Iran dari musuh-musuhnya, sekaligus memperluas pengaruhnya jauh melampaui batas negara.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia telah memimpin Iran sebagai presiden selama perang berdarah dengan Irak pada tahun 1980-an. Konflik berkepanjangan tersebut, ditambah dengan perasaan terisolasi di kalangan banyak warga Iran karena negara-negara Barat mendukung pemimpin Irak Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat secara umum, dan Amerika Serikat secara khusus.

Khamenei juga dikenal sebagai pengajar mata kuliah yurisprudensi dan kelas interpretasi teologi publik, yang memungkinkannya menjangkau audiens yang semakin luas, terutama mahasiswa muda yang mulai kecewa dengan monarki. Monarki Iran pada saat itu telah dipulihkan ke kekuasaan absolut setelah kudeta yang diatur oleh MI6 dan CIA pada tahun 1953, yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh yang terpilih secara demokratis setelah ia mencoba menasionalisasi industri minyak Iran.

Sebagai seorang aktivis politik, Khamenei berulang kali ditangkap oleh polisi rahasia Shah (SAVAK) dan dijatuhi hukuman pengasingan di kota terpencil Iranshahr di Iran tenggara. Namun, ia kembali untuk ikut serta dalam protes besar tahun 1978 yang pada akhirnya mengakhiri pemerintahan Pahlavi.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Timur Tengah Mencekam Iran Serang Puluhan Pangkalan AS

01-03-2026 - 12.30

Dubai Berdarah Empat Lokasi Penting Jadi Target

01-03-2026 - 12.15

Kematian Khamenei Iran Siap Balas

01-03-2026 - 12.00

Khamenei Tewas Israel Lanjutkan Serangan Mematikan

01-03-2026 - 10.45

Khamenei Tewas Iran Bersumpah Balasan Terganas Dimulai

01-03-2026 - 10.30

Iran Siap Balas Dendam Usai Serangan Brutal Renggut 108 Nyawa

01-03-2026 - 10.15
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.