Internationalmedia.co.id – News – Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, melancarkan kritik tajam terhadap serangan yang dipimpin AS ke Iran, menuduh Presiden Donald Trump menyeret negara ke dalam konflik yang tidak diinginkan rakyat. Harris secara eksplisit menentang apa yang ia sebut sebagai "perang perubahan rezim" dan mengklaim bahwa pasukan AS kini berada dalam bahaya akibat "perang pilihan Trump" ini.
Dalam pernyataan resminya di akun X, Harris menegaskan bahwa serangan terhadap Iran adalah pertaruhan yang berbahaya dan tidak perlu. Ia menuduh Trump telah berbohong selama kampanye pemilihan Presiden AS, di mana Trump berjanji akan mengakhiri perang, bukan memulainya. "Kemudian tahun lalu, dia berkata, ‘Kita telah menghancurkan’ program nuklir Iran. Itu juga bohong," kata politikus Partai Demokrat tersebut.

Harris menyatakan bahwa ia dan mantan suaminya, Doug Emhoff, mendoakan para prajurit AS yang berani. Ia menekankan bahwa para prajurit berhak mendapatkan Panglima Tertinggi yang mengambil keputusan perang dan perdamaian dengan keteguhan dan disiplin. Ia juga menyebut serangan tersebut "tidak bijaksana, tidak dapat dibenarkan, dan tidak didukung oleh rakyat Amerika," serta menyoroti bahwa Trump tidak menerima persetujuan kongres untuk menyerang Iran. "Tidak ada keraguan dalam penentangan kami terhadap perang pilihan Donald Trump, dan Kongres harus menggunakan semua kekuatan yang tersedia untuk mencegahnya lebih jauh melibatkan kita dalam konflik ini," tegasnya.
Penting untuk dicatat, saat berkampanye, Harris pernah menyebut Iran sebagai "musuh terbesar" Amerika dalam wawancara dengan ’60 Minutes’. Ia juga menuduh negara Timur Tengah itu memiliki "darah Amerika di tangan mereka," meskipun ia menghindari hipotesis tentang tindakan militer jika Iran membangun senjata nuklir.
Serangan skala besar yang menjadi pemicu kecaman ini dimulai pada akhir pekan lalu oleh AS dan Israel. Operasi gabungan tersebut menargetkan fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lokasi peluncuran rudal balistik dan drone, lapangan terbang militer, serta sistem pertahanan udara Iran.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan dampak mengerikan dari serangan ini, dengan lebih dari 200 orang tewas dan hampir 750 lainnya terluka. Serangan tersebut menghantam 24 dari 31 provinsi di Iran, menunjukkan cakupan yang sangat luas. Komando Pusat AS (Centcom) juga menyatakan sedang menyelidiki laporan mengenai serangan yang menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran selatan, yang menurut pejabat Iran menewaskan lebih dari 100 siswi.
Angkatan Udara Israel turut serta dalam penerbangan militer terbesar dalam sejarah Pasukan Pertahanan Israel (IDF), mengerahkan lebih dari 200 jet untuk menyerang lokasi rudal Iran dan pangkalan udara IRGC. IDF mengklaim telah menghantam lebih dari 500 target, termasuk peluncur rudal Iran dan sistem pertahanan udara di Iran barat dan tengah. Laporan juga menyebutkan bahwa serangan AS dan Israel ini menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

