Jakarta – Internationalmedia.co.id – News melaporkan, rilis jutaan dokumen terkait pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman AS baru-baru ini telah memicu gelombang kejut global, menyeret sejumlah nama besar ke dalam pusaran kontroversi. Selain figur-figur seperti miliarder Bill Gates dan mantan Pangeran Inggris Andrew Mountbatten-Windsor, seorang mantan kepala negara kini juga menjadi fokus penyelidikan serius. Dokumen-dokumen ini mengungkap jaringan gelap Epstein yang jauh lebih luas dari perkiraan, memicu reaksi dan penyelidikan di berbagai belahan dunia.
Di Eropa Timur, Polandia bergerak cepat menanggapi temuan ini. Menteri Kehakiman Waldemar Zurek telah membentuk tim khusus yang melibatkan pejabat dinas rahasia, jaksa, dan kepolisian untuk mendalami potensi keterlibatan Polandia dengan Epstein. Zurek mengungkapkan adanya informasi mengenai warga Polandia yang diduga terlibat dalam "operasi rahasia dramatis" Epstein, termasuk dua individu yang disebut sebagai stafnya. Tim ini akan menyelidiki apakah ada aktivitas jaringan Epstein di Polandia dan mencari potensi korban, meskipun hingga kini belum ada laporan resmi dari korban di Polandia. Perdana Menteri Donald Tusk bahkan mengumumkan bahwa Polandia akan memeriksa kemungkinan hubungan antara Epstein dengan intelijen Rusia, sebuah tuduhan yang langsung dibantah oleh Kremlin sebagai "buang-buang waktu." Pertemuan perdana tim investigasi Polandia ini dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Sementara itu, di Skandinavia, Kepolisian Norwegia telah meluncurkan penyelidikan terhadap mantan Perdana Menteri Thorbjorn Jagland. Penyelidikan ini berfokus pada dugaan "korupsi berat" terkait hubungannya di masa lalu dengan Jeffrey Epstein. Untuk memfasilitasi proses hukum, Kementerian Luar Negeri Norwegia berencana mengajukan permintaan pencabutan kekebalan yang dimiliki Jagland sebagai mantan kepala organisasi internasional.
Thorbjorn Jagland memiliki rekam jejak politik yang panjang, menjabat sebagai PM Norwegia dari tahun 1996 hingga 1997, kemudian Sekretaris Jenderal Dewan Eropa antara tahun 2009 dan 2019. Ia juga pernah memimpin komite yang memilih pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dari Januari 2009 hingga Maret 2015. Laporan dari surat kabar Norwegia, VG, yang mengutip dokumen AS, menyebutkan bahwa Jagland menjalin kontak yang luas dengan Epstein. Dokumen tersebut juga mengindikasikan Jagland pernah meminta bantuan keuangan kepada Epstein untuk membeli sebuah apartemen. Namun, Jagland yang kini berusia 75 tahun membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa semua pinjaman propertinya diperoleh dari bank Norwegia, DNB.
Lebih lanjut, dokumen yang dirilis AS juga mengungkapkan bahwa Jagland pernah menginap bersama Epstein di New York pada tahun 2018, serta di apartemen milik Epstein di Paris pada tahun 2015 dan 2018. Bahkan, ia disebut pernah merencanakan perjalanan keluarga ke pulau pribadi Epstein pada tahun 2014, meskipun akhirnya dibatalkan. Korespondensi email antara Jagland dan Epstein pada tahun 2012 dan 2013 juga dilaporkan membahas topik "wanita muda."
Terkuaknya jutaan halaman dokumen Epstein ini terus membuka tabir gelap yang melibatkan berbagai tokoh dunia, dari elite politik, selebriti, hingga anggota kerajaan, menunjukkan jangkauan skandal yang jauh lebih luas dari perkiraan semula dan memicu konsekuensi hukum serta politik yang mendalam di kancah internasional.

