Paris – Presiden Prancis Emmanuel Macron secara tegas menyatakan bahwa invasi Rusia ke Ukraina adalah "tiga kali kegagalan" bagi Moskow. Pernyataan ini disampaikan Macron di Paris, bertepatan dengan peringatan empat tahun dimulainya konflik yang telah mengguncang Eropa. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa kritikan tajam ini menyoroti dampak militer, ekonomi, dan strategis yang merugikan Rusia.
Menurut Macron, kegagalan pertama Rusia adalah di bidang militer. Invasi yang diluncurkan pada 24 Februari 2022, yang awalnya diprediksi akan berlangsung singkat, kini telah berlarut-larut selama empat tahun, menelan ratusan ribu korban jiwa. Ia bahkan menyebut lebih dari 1,2 juta tentara Rusia terluka atau tewas, menjadikannya jumlah korban tempur tertinggi bagi Rusia sejak Perang Dunia II.

Kegagalan kedua terletak pada aspek ekonomi. Meskipun Macron tidak merinci secara spesifik, implikasinya jelas terkait sanksi internasional dan isolasi yang dihadapi Rusia. Secara strategis, ini adalah kegagalan ketiga. Alih-alih melemahkan, perang justru memperkuat NATO dan menyatukan negara-negara Eropa yang ingin dipecah belah oleh Rusia. Konflik ini juga, menurut Macron, "membongkar kerapuhan imperialisme dari zaman lampau."
Macron juga menyampaikan pesan keras kepada rakyat Rusia. Ia yakin suatu hari mereka akan menyadari "besarnya kejahatan" yang dilakukan atas nama mereka, "kesia-siaan dalih" invasi, serta "dampak jangka panjang yang menghancurkan" bagi negara mereka sendiri. Di sisi lain, Macron memuji ketahanan Ukraina, yang "bertahan dan melawan" selama empat tahun penuh kekerasan, pemerkosaan, penyiksaan, kejahatan perang, dan teror.
Menegaskan komitmennya, Macron berjanji Prancis akan terus memberikan dukungan penuh kepada Ukraina dan memberlakukan sanksi tambahan terhadap Rusia. Tujuannya adalah agar Ukraina dapat bertahan dan agar Rusia menyadari bahwa "waktu tidak berpihak pada mereka."
Macron dijadwalkan memimpin pertemuan penting negara-negara sekutu Ukraina pada Selasa (24/2) waktu setempat. Ia berharap pertemuan ini akan "memungkinkan kita untuk terus bergerak maju" dalam upaya mendukung Kyiv. Meskipun berbagai perundingan telah dilakukan, termasuk yang diluncurkan kembali oleh Amerika Serikat tahun lalu, pertempuran di lapangan masih terus berlanjut tanpa henti.

