Komunitas diaspora Indonesia di Inggris Raya menunjukkan kepedulian mendalam melalui sebuah konser amal bertajuk "Songs for Sumatra". Acara ini bertujuan menggalang dana untuk membantu pemulihan pendidikan anak-anak korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Konser akbar ini dijadwalkan berlangsung di Greenwich, London, pada Senin, 2 Februari 2026, mempertemukan sejumlah talenta seni multigenre yang berkiprah di panggung internasional, termasuk para bintang West End. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa inisiatif mulia ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Inggris, serta dua bank nasional terkemuka, Bank Mandiri dan Bank BRI.
Panggung "Songs for Sumatra" akan dimeriahkan oleh deretan nama-nama beken diaspora Indonesia. Sebut saja Desmonda Cathabel, El Haq Latief, Jaz Triadi, Ledi, Mychelle, Widyadari, Gabriela Fernandez, dan Swara Nusantara Choir Group. Tak ketinggalan, Indonesian Dance Group juga siap memukau penonton dengan tarian Ratoh Jaroe, sebuah warisan budaya dari Aceh, menambah kekayaan artistik acara tersebut.

Shafa Sabila Fadli, sosok di balik gagasan "Songs for Sumatra", menjelaskan bahwa ide konser kemanusiaan ini muncul dari dorongan kuat untuk meringankan beban masyarakat, khususnya anak-anak, yang terdampak banjir dahsyat pada November 2025 di tiga provinsi Sumatera. "Dari situ saya menghubungi kawan-kawan artis, membuka kemungkinan menggelar pertunjukan, untuk menggalang dana bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana," ujar Shafa, seorang profesional muda berdarah Minang-Palembang yang kini berkarier di sektor keuangan London. Ia menambahkan, "Gayung bersambut dan langsung kami bekerja, menggandeng berbagai pihak termasuk Nadya Mere, Johan Wahono, dan Adit Marciano sebagai komite penyelenggara, untuk menyelenggarakan konser ini."
Dana yang terkumpul dari konser ini, menurut Shafa, akan dialokasikan secara spesifik untuk pembangunan dan renovasi gedung-gedung sekolah. Harapannya, anak-anak dapat kembali mengakses pendidikan secepat mungkin tanpa terhambat. Untuk mewujudkan misi ini, panitia menggandeng Human Aid Initiative, sebuah organisasi bantuan kemanusiaan asal Inggris yang telah memiliki rekam jejak program di Indonesia. "Anak-anak adalah kunci kemajuan bangsa di masa depan. Jangan sampai hak mereka atas pendidikan terganggu karena ketiadaan infrastruktur pendidikan, yang rusak akibat bencana," tegas Shafa, yang juga akan memandu jalannya konser "Songs for Sumatra".
Pemilihan Greenwich sebagai lokasi konser bukan tanpa alasan. Wilayah yang dikenal sebagai acuan waktu universal ini, menurut Shafa, melambangkan momen krusial bagi semua pihak untuk menanggalkan perbedaan dan menyatukan tekad serta upaya dalam membantu sesama yang tertimpa musibah.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya, menyambut hangat dan memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif para talenta muda Indonesia yang berkarya di negeri Ratu Elizabeth ini. "Ini wujud nyata kepedulian dan solidaritas terhadap musibah banjir yang dialami oleh saudara-saudara kita di tiga provinsi di Sumatera, sekaligus menunjukkan kecintaan mereka terhadap Indonesia serta komitmen untuk terus mengharumkan nama bangsa melalui kreativitas seni dan kontribusi positif di kancah internasional, meskipun berada jauh dari tanah air," ungkap Desra dalam rilis pers yang diterima internationalmedia.co.id, Senin, 2 Februari 2026.
Desra menambahkan, semangat kolaborasi dan keberanian untuk berkreasi melampaui batas geografis yang ditunjukkan oleh diaspora muda ini adalah cerminan kualitas generasi penerus bangsa yang adaptif, berdaya saing tinggi, dan berorientasi pada masa depan.
Mekanisme penyaluran dana hasil penggalangan konser kemanusiaan ini akan dipercayakan kepada Human Aid Initiative UK. Organisasi ini akan bekerja sama dengan Human Initiative Indonesia, yang telah terbukti berpengalaman dalam menjalankan berbagai program bantuan kemanusiaan di Tanah Air maupun di berbagai negara lain sejak tahun 1999.
Mohamad Susilo, Direktur Human Aid Initiative, menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan untuk mengelola program bantuan bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana di Sumatera. Susilo menjelaskan, dana yang terkumpul akan difokuskan untuk membangun kembali dan merenovasi unit-unit sekolah yang mengalami kerusakan, demi memastikan anak-anak dapat mengakses pendidikan secara aman dan berkelanjutan.
Sebagai informasi, bencana banjir dan tanah longsor pada November lalu telah menimpa lebih dari 110.000 jiwa di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Musibah ini tidak hanya merusak area permukiman dan prasarana umum, tetapi juga mengakibatkan hancurnya ribuan fasilitas pendidikan.

