Internationalmedia.co.id melaporkan insiden memilukan di Lebanon Selatan. Dua tentara Lebanon tewas akibat ledakan sebuah drone Israel yang jatuh di wilayah Naqura, Kamis (28/8). Insiden ini menambah daftar panjang korban jiwa dari kalangan militer Lebanon yang bertugas di perbatasan.
Militer Lebanon dalam keterangan resminya menyatakan, ledakan terjadi saat personel militer memeriksa drone tersebut. Seorang perwira dan seorang prajurit tewas seketika, sementara dua lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini menjadi sorotan tajam, mengingat gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang telah berlaku sejak November lalu. Tugas militer Lebanon di wilayah selatan, dibantu pasukan penjaga perdamaian PBB, adalah membongkar infrastruktur Hizbullah.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyampaikan kecaman keras atas insiden ini. Ia menyebutnya sebagai tragedi mematikan keempat bagi militer Lebanon sejak penempatan pasukan di perbatasan selatan pasca gencatan senjata. Aoun juga menyoroti insiden ini terjadi bertepatan dengan perpanjangan mandat pasukan penjaga perdamaian PBB, serta seruan komunitas internasional agar Israel menghentikan serangan dan mundur dari wilayah Lebanon.
Awal bulan ini, enam tentara Lebanon juga tewas dalam ledakan di sebuah depot senjata dekat perbatasan, yang diduga milik Hizbullah. Insiden beruntun ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyampaikan belasungkawa dan menegaskan kembali dukungan penuh pemerintah terhadap institusi militer yang dianggap sebagai benteng kedaulatan negara. Kejadian ini menimbulkan ketegangan baru di tengah upaya menjaga perdamaian di wilayah yang rawan konflik.

