Internationalmedia.co.id – News melaporkan situasi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk menyusul intensifikasi serangan Israel. Lebih dari seribu jiwa melayang dan ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi akibat konflik yang tak kunjung reda ini.
Data terbaru dari Al Jazeera, yang juga dikutip oleh Kantor Berita Nasional Lebanon, menunjukkan bahwa korban tewas kini mencapai 1.116 orang. Selain itu, 3.229 warga sipil mengalami luka-luka. Unit Manajemen Risiko Bencana juga mencatat bahwa total 136.262 individu telah mengungsi, membentuk 34.973 keluarga yang kini bergantung pada tempat penampungan sementara.

Serangan Israel tidak hanya terbatas pada gempuran udara. Dilansir dari AFP, pasukan darat Israel dilaporkan telah bergerak maju, bertujuan menguasai jalur hingga ke Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa operasi ini bertujuan ‘menciptakan zona keamanan nyata’ dan memperluasnya. "Kami hanya menciptakan zona penyangga yang lebih besar yang dapat mencegah invasi darat ke Israel dan serangan rudal," ujarnya dalam sebuah video yang dibagikan kantornya.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah melalui pemimpinnya, Qassem, menyatakan penolakan tegas terhadap perundingan gencatan senjata selama Israel terus melancarkan serangannya. Hizbullah juga mengklaim telah melancarkan puluhan serangan balasan terhadap pasukan Israel, termasuk peluncuran rudal ke lokasi militer di Israel tengah, yang memicu sirene serangan udara.
Konflik ini bukanlah hal baru. Israel diketahui pernah menduduki Lebanon selatan selama sekitar dua dekade hingga tahun 2000, menambah kompleksitas dinamika regional yang terus bergejolak.

