Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home » Kuba Gelap Gulita Lagi Ada Apa
Trending Indonesia

Kuba Gelap Gulita Lagi Ada Apa

GunawatiBy Gunawati22-03-2026 - 12.45Tidak ada komentar3 Mins Read0 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Kuba Gelap Gulita Lagi Ada Apa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Pulau Kuba kembali diterpa kegelapan total. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Kementerian Energi Kuba mengumumkan pemadaman listrik nasional yang melumpuhkan seluruh negeri, membuat lebih dari 10 juta penduduknya tanpa pasokan daya. Ini adalah kali kedua dalam sepekan terakhir insiden serupa terjadi, memicu kekhawatiran mendalam akan stabilitas energi negara tersebut.

Melalui platform X, Kementerian Energi Kuba mengonfirmasi "pemutusan total Sistem Listrik Nasional" pada Minggu (22/3). Mereka juga menyatakan bahwa "protokol untuk pemulihan telah mulai diimplementasikan", mengindikasikan upaya darurat sedang berlangsung untuk mengembalikan pasokan listrik ke seluruh wilayah.

Kuba Gelap Gulita Lagi Ada Apa
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Insiden ini terjadi saat Kuba masih berjuang memulihkan diri dari pemadaman jaringan listrik berskala nasional yang terjadi pada Senin (16/3) lalu. Pemadaman sebelumnya merupakan yang pertama sejak Amerika Serikat (AS) memperketat blokade pasokan bahan bakar dari Venezuela pada awal tahun ini, memperparah krisis energi di pulau tersebut.

Sehari sebelum pemadaman total pada Sabtu (21/3), perusahaan listrik milik negara telah mengeluarkan peringatan melalui media sosial. Mereka memprediksi defisit daya signifikan sebesar 1.704 megawatt selama jam-jam puncak pada Sabtu malam, sebuah indikasi awal akan adanya tekanan besar pada sistem kelistrikan.

Di tengah krisis ini, Presiden AS Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir kerap melontarkan pernyataan kontroversial mengenai Kuba. Ia secara terbuka memprediksi keruntuhan pemerintahan komunis di sana. Bahkan, pada Senin (16/3) lalu, Trump secara eksplisit mempertanyakan kemungkinan "mendapat kehormatan untuk mengambil alih" pulau tersebut.

Dari Gedung Putih, Trump menyatakan, "Sepanjang hidup saya, saya selalu mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba, kapan Amerika Serikat akan mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba? Itu suatu kehormatan besar." Ia melanjutkan dengan retorika yang lebih jauh, "Mengambil alih Kuba dalam beberapa bentuk, ya, mengambil alih Kuba—maksud saya, apakah saya membebaskannya, mengambilnya, saya pikir saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya."

Namun, Trump menolak memberikan klarifikasi saat ditanya apakah "pengambilalihan" Kuba akan melibatkan tingkat kekuatan yang serupa dengan operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS pada Januari lalu.

Menanggapi situasi yang memanas, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel pada Jumat (20/3) menyampaikan pidato di hadapan para aktivis internasional pembawa bantuan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya menyadari "kemungkinan adanya serangan terhadap Kuba" dan sedang melakukan persiapan untuk menghadapinya.

Pekan lalu, Díaz-Canel juga mengonfirmasi dalam pidato nasional bahwa Kuba tengah berdialog dengan pihak AS mengenai negosiasi untuk mengakhiri embargo bahan bakar. Meski demikian, pemerintah Kuba telah menegaskan bahwa pembicaraan tersebut tidak akan mencakup negosiasi mengenai sistem politik negaranya.

Sejarah mencatat, sejak revolusi Kuba yang dipimpin Fidel Castro berhasil menggulingkan rezim Fulgencio Batista pada tahun 1959, negara kepulauan ini telah berada di bawah cengkeraman embargo ekonomi ketat yang diberlakukan oleh AS.

Kuba bukan kali ini saja menghadapi gejolak ekonomi yang parah. Negara ini pernah mengalami "Periode Khusus" yang kelam pasca-runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, yang secara drastis memutus aliran bantuan luar negeri vital bagi pemerintahan komunis.

Namun, krisis terkini ini dinilai tak kalah suram. Kelangkaan bahan bakar, terutama dari Meksiko dan Venezuela, telah melumpuhkan hampir seluruh sektor pariwisata, mengganggu sistem pendidikan, memangkas layanan esensial di rumah sakit, bahkan menghambat petani untuk mendistribusikan hasil panen mereka ke pasar.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Jangkauan Rudal Iran Bikin Eropa Ketar Ketir

22-03-2026 - 12.30

Dunia Menanti 48 Jam Krusial

22-03-2026 - 12.15

Saudi Usir Diplomat Iran Ketegangan Memuncak

22-03-2026 - 12.00

Pesan Mengejutkan Menlu Iran di Tengah Konflik

22-03-2026 - 10.45

Pertahanan Israel Tumbang Ratusan Terluka Parah

22-03-2026 - 10.30

Iran Beri Jalan Khusus Jepang Korsel Lewati Hormuz

22-03-2026 - 10.15
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.