Pagar besi setinggi lima meter kini mengelilingi kota Sinjil di Tepi Barat. Internationalmedia.co.id melaporkan, pembangunan pagar tersebut oleh Israel telah mengubah kota tersebut menjadi seperti penjara besar, menurut kesaksian warga. Akses masuk dan keluar kota dibatasi hanya melalui satu gerbang yang diawasi ketat oleh tentara Israel.
Mousa Shabaneh, seorang warga Sinjil, menggambarkan situasi tersebut dengan pilu. Ia kehilangan mata pencahariannya setelah pagar besi membatasi akses ke kebun pembibitan miliknya. Pohon-pohon yang selama ini menjadi sumber pendapatannya kini hancur. Kisah serupa dialami banyak warga Sinjil lainnya.

Pembangunan tembok pembatas dan pos pemeriksaan oleh Israel memang sudah menjadi pemandangan biasa di Tepi Barat. Namun, peningkatan drastis pembangunan pembatas sejak perang di Jalur Gaza membuat kota-kota dan desa-desa Palestina semakin terisolasi. Pagar di Sinjil menjadi contoh nyata dampaknya terhadap kehidupan warga.
Militer Israel berdalih pembangunan pagar tersebut bertujuan melindungi jalan raya Ramallah-Nablus dari aksi pelemparan batu dan gangguan keamanan. Mereka mengklaim masih memungkinkan "akses bebas" ke kota karena satu gerbang masih dibuka. Namun, warga Sinjil membantah klaim tersebut. Mereka harus menempuh jalur yang berliku dan sempit untuk mencapai satu-satunya titik akses yang diizinkan.
Bahaa Foqaa, Wakil Wali Kota Sinjil, menilai kebijakan ini sebagai bentuk intimidasi dan upaya menghancurkan kehidupan warga Palestina. Pembatasan akses telah memutus mata pencaharian banyak penduduk yang sebelumnya beraktivitas di sekitar kota. Kisah Sinjil menjadi gambaran nyata penderitaan warga Palestina di bawah pendudukan Israel.
