Pengacara mendiang Jeffrey Epstein, sosok kontroversial yang terlibat dalam kejahatan seks anak, kini secara resmi mendesak Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dan Badan Keamanan Nasional (NSA) untuk membuka seluruh arsip terkait potensi hubungan intelijen kliennya. Langkah ini, yang diajukan berdasarkan Undang-Undang Kebebasan Informasi (FOIA), bertujuan mengungkap tabir misteri yang telah lama menyelimuti kehidupan Epstein. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, permintaan ini mencuat setelah laporan dari The Washington Post.
Tim hukum yang mewakili harta warisan Epstein secara spesifik meminta agar CIA dan NSA merilis dokumen yang mungkin menunjukkan adanya hubungan operasional, afiliasi, koneksi intelijen, atau informasi intelijen tersembunyi apa pun yang berkaitan dengan mendiang. Mereka ingin mengetahui apakah Epstein memiliki ikatan yang terbuka atau diakui dengan lembaga-lembaga intelijen tersebut, serta keberadaan dokumen, baik rahasia maupun tidak, mengenai dirinya.

Jeffrey Epstein sendiri ditemukan tewas di sel tahanannya di New York saat menunggu persidangan kasus perdagangan seks anak. Meskipun kematiannya secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, berbagai spekulasi dan teori konspirasi terus bermunculan selama bertahun-tahun. Hubungannya yang luas dengan individu-individu kaya dan berpengaruh di seluruh dunia telah menjadikannya isu politik yang sangat sensitif. Ia bahkan dicurigai pernah menjadi mata-mata Israel dan memiliki keterlibatan dengan intelijen AS.
Sebelumnya, permintaan FOIA serupa yang diajukan pada tahun 1999 dan 2011 oleh CIA tidak menemukan bukti afiliasi terbuka, namun lembaga tersebut menolak untuk mengonfirmasi atau menyangkal keberadaan materi rahasia apa pun. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh NSA, yang enggan mengonfirmasi atau membantah keberadaan dokumen relevan, dengan alasan potensi ancaman terhadap keamanan nasional serta perlindungan sumber dan metode intelijen.
Desakan terbaru ini semakin menguat setelah Departemen Kehakiman AS pada 30 Januari lalu merilis kumpulan dokumen Epstein yang baru. Dokumen tersebut secara mengejutkan mengungkap interaksi masa lalu antara Epstein dan Direktur CIA saat ini, William Burns. Terungkap bahwa pada tahun 2014, ketika masih menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri AS, Burns telah menjadwalkan serangkaian pertemuan dengan Epstein, termasuk makan siang di sebuah firma hukum di Washington dan pertemuan di kediaman Epstein di New York.
Juru bicara Burns menyatakan bahwa Direktur CIA tersebut "sangat menyesal pernah bertemu" dengan Epstein. Dijelaskan pula bahwa semua kontak telah diputus setelah Burns mengetahui tentang hukuman pidana Epstein terkait kasus prostitusi anak pada tahun 2008.
Langkah hukum ini secara signifikan memperkuat spekulasi yang telah lama beredar mengenai kemungkinan koneksi Epstein dengan dinas-dinas intelijen. Permintaan ini diharapkan dapat membawa kejelasan atas misteri yang terus membayangi salah satu skandal paling kontroversial di Amerika Serikat.

