Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, baru-baru ini menegaskan kembali komitmen negaranya untuk mempertahankan status sebagai kekuatan nuklir, sebuah deklarasi yang disampaikan dengan nada tak tergoyahkan. Dalam pernyataan yang menarik perhatian global, Kim juga mengeluarkan peringatan keras kepada Korea Selatan, mengancam respons tanpa ampun atas setiap tindakan yang dianggap provokatif. Hal ini dilaporkan oleh Internationalmedia.co.id – News, mengutip media pemerintah setempat.
Dengan tegas, Kim Jong Un menyatakan, "Korea Utara tidak akan pernah mengubah statusnya sebagai negara bersenjata nuklir." Pernyataan krusial ini, yang disampaikan pada hari Senin dan dirilis oleh media pemerintah pada Selasa, menggarisbawahi tekad Pyongyang untuk tidak menyerahkan kemampuan nuklirnya. Ini juga menjadi penanda penting setelah pengangkatan kembali Kim sebagai kepala Komisi Urusan Negara, badan pembuat kebijakan tertinggi di negara tersebut.

Kim menambahkan bahwa negaranya akan terus memperkuat posisinya sebagai negara bersenjata nuklir sebagai arah strategis yang tidak dapat diganggu gugat. Ia juga menekankan pentingnya secara agresif meningkatkan "perjuangan melawan kekuatan musuh," sebuah frasa yang sering digunakan untuk merujuk pada Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam pidato kebijakan komprehensif yang dilaporkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kim Jong Un membahas berbagai aspek, mulai dari strategi nuklir dan pertahanan, hingga visi ekonomi dan relasi dengan Korea Selatan. Ia menegaskan bahwa perluasan dan kemajuan penangkal nuklir adalah bagian dari "misi yang dipercayakan oleh Konstitusi Republik," dan mengklaim bahwa upaya penguatan status nuklir ini "sepenuhnya dibenarkan" sebagai langkah pertahanan diri.
Negara yang terisolasi secara internasional ini, menurut Kim, akan memastikan "kesiapan yang tepat" dari pasukan nuklirnya untuk menangkal "ancaman strategis" yang mungkin muncul. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Pyongyang akan terus berinvestasi dalam pengembangan dan pemeliharaan arsenal nuklirnya.
Kim Jong Un tidak menahan diri dalam mengkritik tetangga selatannya. Ia secara terbuka menyebut Korea Selatan sebagai "negara yang paling bermusuhan," sebuah retorika yang semakin memperuncing ketegangan di Semenanjung Korea.
Pemimpin Korut itu lebih lanjut menyatakan bahwa Pyongyang akan "menetapkan Korea Selatan sebagai negara yang paling bermusuhan dan akan menghadapinya dengan menolak serta mengabaikannya sepenuhnya." Ia memperingatkan bahwa Korea Utara akan "membuatnya membayar tanpa ampun – tanpa pertimbangan atau keraguan sedikit pun – atas setiap tindakan yang melanggar Republik kami." Ancaman ini mencerminkan sikap garis keras Korut terhadap Seoul, terutama di tengah meningkatnya latihan militer bersama antara Korea Selatan dan Amerika Serikat.

