Teheran – Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2) pagi, telah memicu respons keras dari Garda Revolusi Iran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Garda Revolusi mengumumkan bahwa operasi ofensif paling ganas dalam sejarah Republik Islam akan segera dilancarkan, menargetkan wilayah dan pangkalan yang mereka sebut sebagai ‘teroris Amerika’. Ancaman ini secara spesifik ditujukan kepada Israel dan Amerika Serikat.
Insiden mematikan ini, yang dikonfirmasi oleh Iran pada Minggu (1/3) sebagai penyebab wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, terjadi hanya dua hari sebelum putaran keempat pembicaraan nuklir yang krusial di Wina. Serangan udara gabungan AS-Israel tersebut dilaporkan menghantam sejumlah fasilitas pertahanan dan sipil di 24 provinsi di seluruh Iran, melanggar kedaulatan nasional dan integritas teritorial Republik Islam. Sebagai respons, Iran telah mengumumkan masa berkabung selama 40 hari untuk pemimpin mereka yang gugur.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa ‘kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa balasan’ dan akan ‘membuka lembaran baru dalam sejarah dunia Islam’. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), sebuah badan berpengaruh yang mengoordinasikan strategi pertahanan dan keamanan nasional, menyatakan bahwa serangan gabungan AS-Israel ini justru akan memicu ‘pemberontakan besar-besaran’ dalam memerangi para penindas dunia. SNSC menambahkan, Iran dan sekutunya hanya akan menjadi lebih tangguh dan bertekad usai insiden tersebut.
Serangan udara yang mengejutkan ini terjadi saat negosiasi program nuklir Iran sedang berlangsung. Pembicaraan di Wina, yang dijadwalkan pada Senin (3/3), seharusnya menjadi putaran keempat antara perwakilan Iran dan AS pada bulan Februari. Sebelumnya, putaran ketiga yang berlangsung pada Kamis lalu di Jenewa, dengan mediasi dari Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi, dilaporkan menunjukkan adanya kemajuan signifikan. Namun, serangan pada 28 Februari 2026 tersebut kini telah mengubah dinamika diplomasi dan memicu ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dengan situasi yang memanas dan ancaman balasan yang menggema, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Teheran. Kematian Pemimpin Tertinggi Iran tidak hanya membuka lembaran baru dalam konflik regional, tetapi juga berpotensi memicu eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah.

