Pengumuman Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, tentang pengakuan negara Palestina pada September mendatang telah memicu kemarahan Israel. Internationalmedia.co.id melaporkan, Kementerian Luar Negeri Israel melalui unggahan di media sosial X mengecam keras keputusan tersebut. Mereka menilai langkah Kanada sebagai "hadiah bagi Hamas" dan mengancam upaya gencatan senjata di Gaza serta pembebasan sandera.
Iddo Moed, Duta Besar Israel untuk Kanada, lebih tegas lagi. Ia menyatakan Israel tak akan tunduk pada tekanan internasional dan menolak pengakuan negara yang dianggapnya sebagai entitas jihadis yang berupaya menghancurkan Israel. Moed bahkan menyebut pengakuan tersebut sebagai "pemberian penghargaan dan legitimasi atas kebiadaban Hamas," yang justru merugikan warga Israel dan Palestina.

Berbeda dengan Israel, Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, menyambut baik keputusan Kanada. Dalam percakapan telepon dengan Carney, Abbas menilai langkah ini akan meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional. Kantor berita resmi Palestina, WAFA, turut mengutip pernyataan Abbas tersebut.
Keputusan Kanada ini menyusul langkah serupa dari Prancis dan Inggris, negara-negara G7 lainnya. Carney sendiri berdalih bahwa pengakuan negara Palestina diperlukan untuk menjaga harapan solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina, sebuah tujuan lama Kanada yang dianggapnya semakin menipis. Kanada berencana menyatakan pengakuan tersebut di Sidang Umum PBB ke-80 pada September 2025. Dengan demikian, Kanada menjadi negara ketiga yang akan mengakui Palestina bulan depan.
