Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home » Jam Kiamat Nuklir Berdetak Cepat
Trending Indonesia

Jam Kiamat Nuklir Berdetak Cepat

GunawatiBy Gunawati04-02-2026 - 07.15Tidak ada komentar3 Mins Read3 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Jam Kiamat Nuklir Berdetak Cepat
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Ketegangan global mencapai titik baru seiring dengan semakin dekatnya berakhirnya perjanjian pembatasan senjata nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Moskow kini secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk menghadapi era tanpa batasan nuklir, sebuah skenario yang berpotensi mengubah lanskap keamanan dunia secara drastis.

Perjanjian yang dimaksud adalah New START, atau nama lengkapnya The Treaty between the United States of America and the Russian Federation on Measures for the Further Reduction and Limitation of Strategic Offensive Arms. Kesepakatan bersejarah ini ditandatangani pada tahun 2010 oleh Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, dan Presiden AS Barack Obama, dengan tujuan utama mengendalikan dan mengurangi jumlah senjata ofensif strategis kedua negara adidaya nuklir tersebut.

Jam Kiamat Nuklir Berdetak Cepat
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Mulai berlaku efektif pada 5 Februari 2011, New START memberikan waktu tujuh tahun bagi kedua negara untuk memenuhi batasan-batasan utama yang disepakati, yaitu hingga 5 Februari 2018. Sejak tanggal tersebut, baik Washington maupun Moskow telah berhasil mematuhi dan mempertahankan batasan-batasan yang ditetapkan, menandai keberhasilan dalam upaya denuklirisasi parsial.

Batasan-batasan krusial yang diatur dalam perjanjian ini meliputi: tidak lebih dari 700 rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dikerahkan, rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM), serta pesawat pembom berat yang dilengkapi persenjataan nuklir. Selain itu, jumlah hulu ledak nuklir pada sistem yang dikerahkan dibatasi hingga 1.550 unit, dengan setiap pesawat pembom berat dihitung sebagai satu hulu ledak. Terakhir, total peluncur ICBM, SLBM, dan pesawat pembom berat, baik yang dikerahkan maupun tidak, dibatasi hingga 800 unit.

Namun, masa berlaku perjanjian penting ini kini mendekati penghujungnya, dijadwalkan berakhir pada 4 Februari 2026. Prospek berakhirnya New START tanpa adanya pengganti atau perpanjangan memicu kekhawatiran serius di kalangan analis keamanan global.

Dmitry Medvedev, yang kini menjabat sebagai pejabat keamanan senior Rusia, baru-baru ini menyuarakan keprihatinannya yang mendalam. Ia memperingatkan bahwa berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir ini dapat mempercepat ‘jam kiamat’ simbolis yang mengukur kemungkinan bencana buatan manusia yang menghancurkan dunia. "Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini segera berarti bencana dan perang nuklir akan dimulai, tetapi hal itu tetap harus membuat semua orang khawatir," kata Medvedev seperti dilansir Reuters, seraya menambahkan bahwa "waktu terus berjalan dan jelas harus dipercepat."

Di sisi lain, Amerika Serikat telah berulang kali menyarankan agar Tiongkok, yang memiliki kekuatan nuklir terbesar ketiga di dunia, turut bergabung dalam pembicaraan pengendalian senjata. Namun, Beijing hingga kini menunjukkan keengganan untuk terlibat, mempersulit upaya global untuk memperluas cakupan pembatasan nuklir.

Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan New York Times bulan lalu, juga sempat menyinggung isu New START. Ia tidak memberikan sinyal positif untuk memperpanjang perjanjian tersebut, bahkan menyatakan, "Jika berakhir, ya berakhir. Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik." Pernyataan ini mengindikasikan keinginan AS untuk renegosiasi atau bahkan pembentukan kerangka kerja baru yang dianggap lebih menguntungkan.

Menanggapi sikap AS yang terkesan bungkam terhadap usulan perpanjangan, Rusia menganggap "Tidak adanya jawaban juga merupakan jawaban," seperti diungkapkan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov. Ryabkov, yang juga juru bicara Kremlin untuk pengendalian senjata, menegaskan bahwa Rusia siap menghadapi realitas baru di mana dua kekuatan nuklir terbesar dunia – Rusia dan AS – tidak lagi terikat oleh batasan apapun untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir.

Situasi ini membuka babak baru dalam perlombaan senjata global, di mana ketidakpastian dan potensi eskalasi menjadi bayangan yang membayangi masa depan keamanan internasional.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Mantan Presiden Venezuela Siap Hadapi Sidang Penentu di New York

26-03-2026 - 21.45

Trump Beri Ultimatum Iran Waktu Habis

26-03-2026 - 21.30

Selat Hormuz Terbuka untuk Malaysia Indonesia Menanti

26-03-2026 - 21.15

Iran Ungkap Syarat Mutlak Akhiri Perang

26-03-2026 - 21.00

Australia Ambil Langkah Drastis Cegah Risiko Baru

26-03-2026 - 18.15

Iran Tak Mau Damai Ini 5 Syarat Perang yang Bikin Geger

26-03-2026 - 18.00
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.