Internationalmedia.co.id – News – Riyadh kembali menyuarakan kecaman keras terhadap Iran menyusul serangkaian serangan balasan Teheran ke negara-negara Teluk dan keputusan kontroversialnya menutup Selat Hormuz. Jalur perairan vital yang menjadi urat nadi pasokan energi global ini kini terancam, memicu kekhawatiran serius di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Dalam forum Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Duta Besar Abdulmohsen bin Khothaila, perwakilan Saudi, dengan tegas menyebut tindakan Iran sebagai "agresi yang tidak dapat dibenarkan." Ia menekankan bahwa Iran harus bertanggung jawab penuh atas eskalasi ini dan mendesak Teheran untuk meninjau kembali "kesalahan perhitungannya" yang dinilai tidak akan membuahkan hasil positif. Kecaman ini tidak hanya tertuju pada serangan fisik, tetapi juga pada gangguan navigasi di Selat Hormuz yang strategis.

Ketegangan di Timur Tengah memang telah mencapai titik didih sejak serangan gabungan skala besar Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 1.340 orang di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Teheran melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS. Arab Saudi, meskipun menjadi salah satu target utama, berhasil menggagalkan sebagian besar serangan berkat sistem pertahanan udaranya. Namun, serangan balasan Iran ini tetap menimbulkan kerusakan dan korban luka di Israel serta negara-negara Teluk. Tercatat, 13 tentara AS tewas dan 290 lainnya luka-luka, dengan 10 personel mengalami cedera serius.
Dampak paling signifikan terasa di Selat Hormuz. Sejak awal Maret, Iran secara efektif memblokir perlintasan di selat tersebut, menyerang kapal-kapal dagang dan membatasi lalu lintas pelayaran. Situasi ini berdampak serius pada perdagangan global, menyebabkan lonjakan biaya pengiriman dan harga minyak dunia. Sebelum konflik memanas, sekitar 20-30 persen konsumsi minyak harian global dan seperlima pasokan Gas Alam Cair (LNG) dunia melintasi jalur perairan krusial ini.
Langkah Iran menutup Selat Hormuz, ditambah dengan serangan balasan yang terus berlanjut, memperparah krisis regional dan menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas pasokan energi global. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari para aktor kunci di tengah pusaran konflik yang semakin kompleks ini.

