Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9) telah menimbulkan dampak luar biasa yang menjalar hingga ke ibu kota. Ribuan penerbangan terpaksa dibatalkan, langit Jakarta diselimuti abu vulkanik, dan aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah terpaksa dialihkan ke rumah. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, gemuruh dan getaran dari gunung di Selat Sunda ini kini meluas, memengaruhi wilayah Lampung, Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat.
1.588 Penerbangan Lumpuh, Ratusan Ribu Penumpang Terlantar

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengonfirmasi skala dampak yang masif di sektor penerbangan. Total 1.588 penerbangan terpaksa ditunda, menyebabkan sekitar 170.000 penumpang tertahan. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, pada Senin (7/9/2026) pagi, menyatakan bahwa enam dari delapan bandara yang terdampak masih ditutup, dengan perpanjangan penutupan hingga pukul 09.00 WIB.
Bandara-bandara vital yang masih lumpuh meliputi Soekarno-Hatta (CGK), Halim Perdanakusuma (HLP), Radin Inten II Lampung (TKG), Husein Sastranegara (BDO), Budiarto Curug (RTO), dan Pondok Cabe (PCB). Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa hak-hak penumpang yang terdampak wajib dipenuhi oleh maskapai, termasuk informasi perubahan status penerbangan dan pilihan penanganan sesuai ketentuan. Pemerintah juga telah menyiapkan bandara alternatif seperti Kertajati, Juanda, YIA, serta bandara di Semarang dan Solo. Bagi penumpang yang penerbangannya dialihkan, transportasi darat lanjutan berupa bus dan kereta api akan disediakan secara gratis.
Udara Jakarta Terkontaminasi, Modifikasi Cuaca Dikerahkan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran abu vulkanik telah mencapai sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Pemantauan pada pukul 04.00 WIB menunjukkan dua klaster sebaran abu: klaster pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat hingga ketinggian 20.000 kaki. Klaster kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencapai Banten, Lampung, Bengkulu, serta Samudra Hindia hingga ketinggian 50.000 kaki.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, melalui Kepala Dudi Gardesi, mengimbau warga untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan guna meminimalisir paparan abu. Menanggapi kondisi ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melancarkan operasi modifikasi cuaca. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, pada Minggu (6/9/2026), menyatakan operasi ini digencarkan sepanjang hari hingga malam, menggunakan pesawat yang disiapkan di Pondok Cabe, demi menciptakan kondisi yang lebih kondusif, terutama di DKI Jakarta.
Sekolah Terapkan PJJ, Keselamatan Siswa Jadi Prioritas
Dampak erupsi juga merambah sektor pendidikan. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menginstruksikan sekolah di daerah terdampak berat, seperti di Banten (Kabupaten Serang) dan Lampung (Tanggamus, Bandar Lampung, Lampung Selatan), untuk menyesuaikan pembelajaran, termasuk opsi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Keselamatan siswa dan guru menjadi prioritas utama.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta langsung merespons dengan menerapkan PJJ untuk seluruh sekolah mulai Senin, 7 September 2026. Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana, memastikan pembelajaran tetap berjalan aman dan nyaman dari rumah, menghilangkan kekhawatiran orang tua.
Senada, Pemerintah Provinsi Banten mengeluarkan Surat Edaran penerapan PJJ selama tiga hari (7-9 September) bagi SMA, SMK, dan SKh, menindaklanjuti arahan Gubernur Andra Soni. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamaluddin, menekankan keputusan ini demi menjaga kesehatan dan keselamatan warga sekolah. Kebijakan serupa juga diberlakukan di Kota Depok dan Bogor, menunjukkan respons cepat pemerintah daerah dalam menghadapi efek domino erupsi Gunung Anak Krakatau.
