Internationalmedia.co.id Ratusan aktivis yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla, yang berupaya mengirimkan bantuan ke Gaza, dideportasi oleh Israel dan tiba di Istanbul, Turki, dengan membawa cerita pilu tentang perlakuan yang mereka terima. Para aktivis internasional tersebut mengaku mengalami kekerasan dan diperlakukan layaknya binatang selama penahanan.
Armada Global Sumud Flotilla, yang berlayar sejak bulan lalu, membawa bantuan kemanusiaan serta sejumlah politisi dan aktivis, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg. Namun, upaya mereka dihalangi oleh blokade Israel, yang kemudian menahan lebih dari 400 orang dan memulai proses deportasi.

Salah seorang aktivis asal Italia, Paolo Romano, menceritakan bagaimana kapal mereka dicegat oleh sejumlah besar kapal militer Israel. Menurutnya, kapal-kapal tersebut disemprot dengan meriam air sebelum akhirnya para penumpang dipaksa turun ke pantai oleh pasukan bersenjata.
"Mereka memaksa kami berlutut, tengkurap. Jika kami bergerak, mereka memukul kami. Mereka menertawakan, menghina, dan memukul kami," ungkap Romano, menggambarkan kekerasan fisik dan psikologis yang mereka alami. Ia juga menambahkan bahwa mereka tidak diberi air minum dan diintimidasi di malam hari.
Aktivis Malaysia, Iylia Balqis, menggambarkan pengalaman tersebut sebagai "pengalaman terburuk". Ia mengatakan bahwa mereka diborgol, tidak bisa berjalan, dipaksa berbaring tengkurap, tidak diberi air, dan beberapa di antaranya tidak mendapatkan obat-obatan yang dibutuhkan.
Jurnalis Italia, Lorenzo D’Agostino, yang ikut dalam armada tersebut untuk meliput misi kemanusiaan ini, mengatakan bahwa para aktivis "diculik" di perairan internasional, sekitar 88 kilometer dari Gaza. Ia berharap situasi ini segera berakhir karena perlakuan yang mereka terima sangat tidak manusiawi.
Kementerian Luar Negeri Israel mengonfirmasi deportasi 137 aktivis yang mereka sebut sebagai "provokator armada Hamas-Sumud" ke Turki. Pihaknya juga menyatakan akan mempercepat deportasi semua aktivis yang terlibat.
