Internationalmedia.co.id – News โ Sebuah pernyataan mengejutkan dari seorang pejabat Israel pada Selasa kemarin mengindikasikan bahwa potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran "telah semakin mendekat." Kabar ini, yang pertama kali dilaporkan oleh surat kabar Israel Yedioth Ahronoth dan dilansir Al Arabiya, segera memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Sumber-sumber yang dekat dengan Presiden AS Donald Trump, sebagaimana dikutip Yedioth Ahronoth, menyebutkan bahwa Trump cenderung akan mengeluarkan perintah untuk melancarkan operasi militer terhadap Republik Islam Iran dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, melalui platform Truth Social miliknya, Presiden Trump telah menegaskan bahwa jika kesepakatan mengenai ambisi nuklir Iran tidak tercapai, hal itu akan menjadi "hari yang sangat buruk" bagi Teheran.

Di tengah memanasnya situasi, Israel sendiri dilaporkan telah merampungkan persiapan untuk kemungkinan dibukanya front tambahan. Informasi ini disampaikan oleh media Israel lainnya, Channel 12. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun turut angkat bicara, menggambarkan hari-hari yang sedang dilalui negaranya sebagai "kompleks" dan menegaskan bahwa pemerintahnya "siap untuk skenario apa pun."
Menanggapi ancaman yang kian nyata, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi eskalasi konflik yang lebih luas jika negaranya diserang. Berbicara dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, Gharibabadi menyerukan kepada seluruh negara yang menjunjung perdamaian dan keadilan untuk mengambil langkah-langkah konkret guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Ia menegaskan, "Konsekuensi dari setiap agresi baru tidak akan terbatas pada satu negara โ dan tanggung jawab akan berada pada mereka yang memulai atau mendukung tindakan tersebut."
Meskipun demikian, Iran tetap menekankan komitmennya terhadap jalur diplomasi. Gharibabadi menyatakan, "Republik Islam Iran tetap berkomitmen pada diplomasi dan dialog sebagai jalan paling efektif menuju de-eskalasi dan keamanan berkelanjutan." Ia merujuk pada pembicaraan tidak langsung antara negosiator Iran dan AS yang dimediasi Oman di Jenewa pekan lalu, dan akan dilanjutkan pada Kamis mendatang.
Menurut Gharibabadi, keterlibatan diplomatik yang sedang berlangsung ini menunjukkan adanya peluang baru untuk negosiasi guna mengatasi perbedaan dan membangun kepercayaan. Namun, ia menekankan syarat penting: negosiasi tersebut harus menjunjung tinggi rasa saling menghormati, perlakuan yang adil, dan penerapan norma internasional yang tidak selektif. "Setiap negosiasi yang berkelanjutan dan kredibel harus menghormati hak-hak sah semua negara berdasarkan hukum internasional, dan memberikan manfaat keamanan yang nyata tanpa paksaan, tuntutan sepihak, atau ancaman kekerasan," pungkas Gharibabadi.
