Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terang-terangan menyatakan kesiapannya menghadapi potensi invasi darat oleh AS dan Israel. Pernyataan menantang ini segera dibalas oleh Presiden AS Donald Trump yang dengan tegas menyebut langkah militer semacam itu sebagai "buang-buang waktu" belaka.
Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News dari Teheran pada Kamis (5/3) waktu setempat, Araghchi menolak keras anggapan bahwa Iran gentar terhadap ancaman invasi darat. "Tidak, kami menunggu mereka," ujarnya, menegaskan keyakinan bahwa invasi tersebut justru akan menjadi bencana besar bagi pihak penyerang. Ia menambahkan, Iran telah mempersiapkan diri sepenuhnya untuk menghadapi koalisi AS-Israel.

Araghchi menekankan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata, bahkan di tengah agresi besar-besaran yang dimulai pada Sabtu (28/2). Ia mengungkit kembali perang 12 hari pada Juni tahun lalu, ketika fasilitas nuklir Iran menjadi sasaran. Menurutnya, saat itu justru Israel yang meminta gencatan senjata setelah Iran berhasil melawan agresi mereka.
Lebih lanjut, Araghchi mengecam keras serangan AS-Israel terhadap sebuah Sekolah Dasar di Minab, Iran selatan, yang menewaskan 171 anak-anak. Ia membebankan sepenuhnya tanggung jawab atas tragedi kemanusiaan ini kepada militer AS dan Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran berat terhadap warga sipil. Kekecewaan mendalam juga diungkapkannya terhadap negosiasi dengan AS, mengingat "pengkhianatan berulang kali" oleh pemerintahan saat ini, termasuk serangan yang terjadi di tengah proses negosiasi.
Menanggapi pernyataan Araghchi, Presiden Donald Trump melalui sambungan telepon dengan NBC, seperti dilansir kantor berita AFP pada Jumat (6/3), menilai invasi darat ke Iran sebagai tindakan yang sia-sia. "Itu buang-buang waktu. Mereka telah kehilangan segalanya. Mereka telah kehilangan angkatan laut mereka. Mereka telah kehilangan semua yang bisa hilang dari mereka," kata Trump, merujuk pada kondisi Iran.
Trump juga menyebut komentar Menlu Iran itu sebagai "sia-sia" dan mengisyaratkan keinginannya untuk melihat struktur kepemimpinan Iran disingkirkan. "Kita ingin masuk dan membersihkan semuanya dengan cepat," tegasnya, menambahkan bahwa ia tidak menginginkan kepemimpinan yang akan memerlukan "periode 10 tahun" untuk membangun kembali. Trump bahkan mengklaim telah memiliki usulan untuk pemimpin baru Iran, meski menolak menyebutkan nama. Sebelumnya, ia juga pernah menyatakan "harus terlibat" dalam penunjukan pemimpin Iran berikutnya pasca-serangan AS-Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
Saling balas pernyataan antara Teheran dan Washington ini menggarisbawahi eskalasi konflik yang berkelanjutan, dengan Iran yang menunjukkan keteguhan dalam pertahanan diri dan AS yang berupaya menekan melalui retorika keras serta potensi perubahan kepemimpinan.

