Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih pada Jumat (6/3/2026) ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menepis gagasan pengiriman pasukan darat AS ke Iran, menyebutnya sebagai "buang-buang waktu". Namun, di tengah retorika panas ini, Teheran justru menyambut potensi invasi tersebut dengan peringatan keras akan bencana bagi para penyerang, bahkan mengancam akan menargetkan reaktor nuklir Israel.
Dalam percakapan telepon dengan media NBC, Presiden Trump menyatakan bahwa Iran telah "kehilangan segalanya," termasuk angkatan lautnya, sehingga setiap upaya invasi darat akan menjadi sia-sia. Ia juga menganggap pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebagai "komentar yang sia-sia."

Namun, dari Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menunjukkan sikap yang sangat berbeda. Berbicara dalam wawancara eksklusif dengan NBC News, Araghchi dengan penuh keyakinan menolak anggapan ketakutan terhadap potensi invasi darat AS. "Tidak, kami menunggu mereka," tegas Araghchi, seraya menambahkan bahwa Iran yakin dapat menghadapi invasi tersebut dan itu akan menjadi "bencana besar bagi mereka" yang berani menyerang, seperti dilansir media Iran, Press TV.
Ancaman Iran tidak berhenti di situ. Laporan kantor berita ISNA, mengutip seorang pejabat militer Iran yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa Teheran siap menargetkan situs nuklir Israel di Dimona. Ancaman ini muncul di tengah bombardir yang terus-menerus oleh Tel Aviv dan Washington terhadap Teheran dan kota-kota lainnya. Situs Dimona sendiri telah lama dicurigai sebagai lokasi pengembangan program senjata nuklir Israel.
Di tengah gejolak eksternal ini, Presiden Trump juga melakukan perombakan signifikan dalam kabinetnya. Ia mengumumkan pemecatan Menteri Keamanan Dalam Negeri (DHS) Kristi Noem dan menunjuk Senator Republik dari Oklahoma, Markwayne Mullin, sebagai penggantinya, efektif mulai 31 Maret 2026. Melalui platform Truth Social, Trump memuji Mullin sebagai "pejuang MAGA" yang setia membela agenda imigrasi pemerintahannya, seperti dilaporkan NPR.
Sementara itu, di tengah konflik yang memanas, Kremlin atau kantor kepresidenan Rusia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memasok persenjataan kepada sekutu dekatnya, Iran. Seperti dilansir kantor berita Rusia TASS dan Reuters, Kremlin menyatakan bahwa Iran sejauh ini belum menghubungi Moskow untuk meminta bantuan militer apa pun, selain dukungan politik. Situasi ini semakin memperjelas dinamika kompleks di kawasan tersebut, di mana setiap langkah dan pernyataan berpotensi memicu konsekuensi yang lebih luas.

