Teheran, Iran – Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, Iran menyatakan kesiapannya untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklirnya. Namun, ada syarat tegas yang diajukan: negosiasi harus berlangsung dalam ‘kedudukan yang setara’ dan tanpa tekanan. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mengerahkan kekuatan militer besar-besaran di dekat perbatasan Iran, secara mengejutkan menyerukan dialog. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, sikap Iran ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Berbicara dalam sebuah konferensi pers di Istanbul, Turki, Sabtu (31/1/2026), Araghchi menegaskan, "Jika negosiasi berjalan secara adil dan dengan kedudukan yang setara, maka Republik Islam Iran siap untuk berpartisipasi." Ia menekankan bahwa Iran tidak pernah memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir dan selalu terbuka terhadap jalur diplomatik yang konstruktif. Namun, Araghchi dengan tegas menggarisbawahi bahwa "negosiasi tidak boleh dimulai dengan ancaman." Menurutnya, memaksakan tuntutan sebelum perundingan dimulai akan merusak esensi diplomasi itu sendiri. "Hasil dari setiap negosiasi harus ditentukan di meja perundingan, bukan sebelumnya," ujarnya, seperti dikutip dari Anadolu Agency. Iran, tambahnya, tidak akan pernah tunduk pada perundingan yang dilakukan di bawah tekanan atau paksaan.

Sikap Iran ini muncul sebagai respons terhadap pernyataan Presiden Trump sebelumnya yang, di satu sisi, menyuarakan harapan untuk mencapai kesepakatan, namun di sisi lain, mengumumkan pengerahan "armada besar, armada kapal" militer AS yang "sedang bergerak menuju ke Iran saat ini". Trump juga sempat melontarkan peringatan terselubung, "Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan lihat apa yang terjadi."
Araghchi secara terang-terangan mengkritik apa yang ia sebut sebagai "kontradiksi yang jelas" dalam strategi Washington. "Di satu sisi mereka melontarkan ancaman-ancaman, dan di sisi lain mereka menyerukan dialog. Ini tidak konsisten," ujarnya, menyoroti inkonsistensi pendekatan Amerika.
Mengingat kembali eskalasi militer pada Juni tahun lalu yang digambarkannya sebagai "kegagalan" bagi AS, Araghchi memperingatkan, "Jika mereka ingin mengulangi pengalaman itu, hasilnya akan sama. Mereka tidak akan mencapai tujuan mereka." Ia menegaskan dualisme kesiapan Iran: "Iran siap untuk negosiasi, tetapi juga siap untuk berperang. Faktanya, kami bahkan lebih siap sekarang daripada sebelum serangan pada Juni lalu. Jika kami menghadapi agresi lagi, respons kami akan sama kuatnya dan tegasnya."
Meski demikian, Araghchi menambahkan bahwa belum ada rencana pertemuan langsung antara pejabat Iran dan AS untuk memulai kembali perundingan nuklir. Persiapan, katanya, menjadi prioritas utama. "Belum ada rencana pertemuan yang ditetapkan antara kami dan Amerika," jelas Araghchi. "Kami siap untuk negosiasi yang adil dan setara, tetapi persiapan diperlukan, baik dalam hal bentuk dan subjek diskusi, maupun tempat pertemuan," tambahnya. Selama kunjungannya ke Turki, Araghchi juga telah membahas isu ini dengan Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, di Istanbul.
Secara terpisah, Araghchi juga menegaskan bahwa kapabilitas rudal dan pertahanan Iran adalah garis merah yang tidak akan pernah dinegosiasikan. "Saya ingin menyatakan dengan tegas bahwa kemampuan pertahanan dan rudal Iran tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi," tegasnya. Ia menambahkan, "Tidak ada negara yang menegosiasikan keamanannya sendiri. Keselamatan rakyat Iran bukanlah urusan siapa pun. Iran akan mempertahankan dan memperkuat kemampuan pertahanannya semaksimal mungkin untuk melindungi negara," pungkasnya.

