Internationalmedia.co.id – News – Gelombang demonstrasi kembali melanda sejumlah kampus di Iran, di mana para mahasiswa turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka. Menanggapi aksi ini, pemerintah Iran mengeluarkan peringatan tegas mengenai "garis merah" yang tidak boleh dilanggar, meskipun mengakui hak warga untuk berunjuk rasa.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menegaskan bahwa "hal-hal sakral dan bendera" adalah dua contoh utama dari batasan yang tidak boleh dilampaui. Ia menekankan pentingnya melindungi simbol-simbol tersebut, bahkan di tengah luapan emosi atau kemarahan, seperti dikutip dari AFP.

Mohajerani juga menunjukkan pemahaman terhadap perasaan para mahasiswa, mengakui bahwa mereka "memiliki luka di hati dan telah menyaksikan pemandangan yang mungkin memicu kekesalan serta kemarahan; emosi ini dapat dimengerti."
Gelombang protes ini bertepatan dengan dimulainya semester baru pada Sabtu (21/2) di berbagai universitas Iran. Aksi yang melibatkan demonstrasi antipemerintah dan propemerintah ini menandai kali pertama mahasiswa kembali turun ke jalan setelah penindakan keras yang menewaskan ribuan orang dalam protes serupa beberapa bulan sebelumnya.
Protes besar-besaran pada Desember tahun lalu, yang awalnya dipicu oleh krisis ekonomi, dengan cepat berkembang menjadi gerakan antipemerintah. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tantangan paling signifikan bagi kepemimpinan ulama di Teheran dalam beberapa tahun terakhir. Kala itu, aksi ini menarik perhatian Presiden AS Donald Trump, yang sempat menyatakan dukungan bagi para demonstran dan mengancam intervensi saat Teheran melancarkan penindakan brutal. Namun, fokus Trump kemudian bergeser ke program nuklir Iran. Meskipun Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan, Trump pada saat itu juga meningkatkan kehadiran militer di Timur Tengah, sebagai upaya menekan Iran agar mencapai kesepakatan.
Menurut laporan dari Iranian Labor News Agency dan Anadolu Agency, gelombang unjuk rasa terkini telah memasuki hari ketiga pada Senin (23/2) waktu setempat. Mayoritas aksi antipemerintah ini terpusat di berbagai universitas di ibu kota Teheran, termasuk Universitas Sains dan Kebudayaan Teheran, Universitas Amirkabir, Universitas Teheran, dan Universitas Teknologi Sharif. Selain itu, protes juga meluas ke Universitas Teknologi Isfahan di Provinsi Isfahan.
Dalam aksi-aksi tersebut, para mahasiswa lantang meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah. Sesekali, bentrokan juga dilaporkan terjadi antara kelompok mahasiswa yang memiliki afiliasi politik dan ideologi yang berbeda.

