Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Iran kini secara intensif menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Selat Hormuz, jalur perairan vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Manuver ini terjadi di tengah bayang-bayang ancaman serangan dari Amerika Serikat, yang telah mengerahkan sejumlah besar aset militer ke kawasan tersebut.
Sumber dari Anadolu Agency menyebutkan, sebelum rentetan latihan tembak ini dimulai, pada Selasa (27/1) waktu setempat, otoritas penerbangan Iran telah mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM). Pemberitahuan tersebut secara eksplisit mengumumkan adanya aktivitas militer yang melibatkan tembakan langsung di wilayah udara sekitar Selat Hormuz. Latihan ini dijadwalkan berlangsung dari 27 hingga 29 Januari, mencakup area melingkar berdiameter sekitar 9,2 kilometer (lima mil laut). Selama periode tersebut, wilayah udara dari permukaan tanah hingga ketinggian 25.000 kaki di area yang ditentukan dinyatakan sebagai zona berbahaya dan dibatasi untuk navigasi udara.

Bersamaan dengan manuver Iran, Angkatan Udara Amerika Serikat juga telah menggelar serangkaian latihan kesiapan militer di seantero Timur Tengah. Komando Pusat Angkatan Udara AS (AFCENT) pada Minggu (25/1) mengonfirmasi bahwa pasukan mereka telah melaksanakan latihan di seluruh wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM). Latihan ini, menurut AFCENT, bertujuan untuk mendemonstrasikan kapabilitas pengerahan dan dukungan cepat, sekaligus menegaskan kesiapan Washington untuk mempertahankan kekuatan tempur udara di kawasan strategis tersebut.
Peningkatan ketegangan antara kedua negara ini berakar dari penindakan keras terhadap demonstran anti-pemerintah di Iran pada awal Januari. Insiden tersebut dilaporkan menewaskan ribuan warga sipil dan mengakibatkan penahanan puluhan ribu lainnya. Menyikapi situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump pada awal bulan ini bahkan nyaris memerintahkan serangan militer terhadap target-target rezim di Iran. Meskipun keputusan tersebut ditunda, Washington tetap menegaskan bahwa "semua opsi," termasuk intervensi militer, masih terbuka lebar dalam menghadapi Teheran. Pengerahan kapal induk dan aset militer AS lainnya ke Timur Tengah menjadi bukti nyata keseriusan ancaman ini.
Menanggapi ancaman tersebut, para pejabat tinggi Iran telah berulang kali mengeluarkan peringatan keras. Mereka menegaskan bahwa setiap agresi militer dari Amerika Serikat akan disambut dengan respons yang "cepat dan komprehensif," mengisyaratkan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.
Dengan manuver militer yang saling berhadapan dan retorika yang semakin memanas, situasi di Teluk Persia kini berada di ambang ketidakpastian. Selat Hormuz, yang menjadi saksi bisu latihan kekuatan ini, kembali menjadi titik fokus potensi konflik global yang bisa memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas regional dan pasar energi dunia.

