Iran dikabarkan mengajukan permintaan mengejutkan terkait lokasi pertemuan penting dengan Amerika Serikat (AS). Semula dijadwalkan di Turki, Teheran kini menuntut agar perundingan tersebut dialihkan ke Oman. Informasi ini diungkapkan oleh sumber terpercaya kepada Internationalmedia.co.id – News, Rabu (4/6), menjelang jadwal pertemuan yang direncanakan pada Jumat (6/2) mendatang.
Selain perubahan lokasi, Iran juga dilaporkan menginginkan format negosiasi yang lebih terbatas. Teheran hanya bersedia membahas isu nuklir secara bilateral dengan AS, menolak agenda yang lebih luas. Sumber yang sama menyebutkan bahwa Iran tidak ingin melibatkan negara-negara lain dalam pembicaraan ini.

Sebelumnya, menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, bersama Utusan Khusus AS Steve Witkoff, dijadwalkan hadir dalam pembicaraan tersebut, berhadapan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Sejumlah menteri dari negara-negara regional seperti Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Uni Emirat Arab juga diharapkan turut serta. Namun, kini Iran bersikeras hanya menginginkan diskusi langsung dua arah dengan Washington.
Seorang diplomat yang memahami tuntutan Iran menyatakan bahwa Teheran berupaya "mengubah format dan cakupan" perundingan. "Mereka hanya ingin membahas masalah nuklir dengan Amerika, sementara AS ingin memasukkan topik lain seperti rudal balistik dan aktivitas proksi Iran di kawasan itu," jelas diplomat tersebut.
Langkah Iran untuk memodifikasi lokasi dan agenda pembicaraan, yang semula direncanakan di Istanbul, terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. AS sendiri telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas dan ancaman serangan balasan.
Ketegangan ini semakin memuncak setelah militer AS sebelumnya menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut "secara agresif" mendekati kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab.
Presiden Donald Trump sendiri telah memperingatkan bahwa "hal-hal buruk" mungkin akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai dengan Iran. "Kami sedang bernegosiasi dengan mereka saat ini," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, tanpa memberikan detail lebih lanjut mengenai lokasi atau kemajuan pembicaraan.
Sementara itu, Sekretaris Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pembicaraan dengan Iran masih dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga mengonfirmasi bahwa konsultasi mengenai tempat pertemuan masih berlangsung, dengan perencanaan negosiasi dalam beberapa hari ke depan. Turki, Oman, dan beberapa negara lain telah menyatakan kesediaan untuk menjadi tuan rumah pertemuan tersebut, menurut juru bicara Iran. Dinamika ini menunjukkan rumitnya upaya diplomasi di tengah panasnya hubungan kedua negara, dengan lokasi dan format perundingan menjadi kunci penentu arah dialog ke depan.

