Gelombang serangan yang diklaim dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel telah memicu tragedi kemanusiaan di Iran. Palang Merah Iran, melalui laporan terbarunya, mengumumkan bahwa sedikitnya 555 warga sipil telah kehilangan nyawa mereka di berbagai wilayah negara tersebut, dengan 131 kota terdampak sejak operasi militer dimulai dua hari lalu. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa kelompok kemanusiaan itu menyampaikan informasi tersebut melalui unggahan di Telegram, sebagaimana dilansir oleh Al Arabiya dan AFP pada Senin (2/3/2026).
Berbanding terbalik dengan laporan tersebut, Presiden AS Donald Trump justru mengklaim operasi militer AS dan Israel sebagai "kesuksesan besar". Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut bahwa "tidak ada yang akan percaya" atas keberhasilan yang dicapai, di mana 48 pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, diklaim telah tewas dalam satu serangan sejak Sabtu lalu. Trump menggambarkan operasi tersebut sebagai "berlangsung dengan cepat".

Trump lebih lanjut menegaskan bahwa tujuan utama perang ini adalah menyingkirkan kepemimpinan Iran dan menghancurkan militer negara tersebut. Ia menggambarkan situasi pasca-serangan sebagai "sangat positif" dan bahkan "berjalan lebih cepat dari jadwal", mengklaim bahwa AS melakukan pekerjaan ini "bukan hanya untuk kita, tetapi untuk dunia". Pernyataan optimis ini disampaikan Trump dalam wawancara terpisah dengan CNBC.
Menanggapi eskalasi ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, segera melayangkan surat protes kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan para anggota Dewan Keamanan PBB. Surat tersebut menyusul kabar wafatnya Khamenei dalam serangan yang diklaim oleh AS dan Israel, dengan Araghchi mengancam "konsekuensi yang mendalam dan luas" bagi mereka yang bertanggung jawab.
Dalam surat yang dikirim pada hari Senin (2/3/2026) tersebut, Araghchi secara khusus menyoroti kedudukan Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Ia menyatakan bahwa Khamenei bukan hanya otoritas resmi tertinggi negara, tetapi juga tokoh agama yang dihormati oleh puluhan juta umat Muslim di seluruh kawasan dan dunia. Araghchi memperingatkan bahwa serangan semacam itu akan memiliki "konsekuensi yang mendalam dan luas", dan tanggung jawab penuh akan berada di tangan para pelakunya, demikian dilaporkan oleh Press TV.
Araghchi lebih lanjut menggarisbawahi sifat "mengerikan dan kriminal" dari kekejaman yang "dilakukan terhadap bangsa besar Iran." Ia menekankan bahwa Israel dan AS telah menargetkan Republik Islam Iran melalui "serangkaian tindakan agresif, terencana, dan sama sekali tidak dapat dibenarkan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial" negara tersebut.

