Satu bulan sudah berlalu sejak konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah, namun tanda-tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah masih jauh dari harapan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa situasi justru semakin memanas, dengan eskalasi militer yang signifikan dan ancaman invasi darat yang membayangi.
Konflik ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Iran tidak tinggal diam, membalas dengan serangkaian serangan ke Israel dan fasilitas militer AS di berbagai negara Teluk. Respons Iran juga mencakup pengetatan kontrol di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak vital dunia, yang segera memicu lonjakan harga minyak global.

Dampak kemanusiaan dari perang ini sangat memilukan. Data yang dihimpun Al-Jazeera menunjukkan bahwa di Iran, lebih dari 1.900 orang tewas dan lebih dari 24.800 lainnya terluka akibat serangan AS dan Israel. Sementara itu, di pihak Amerika Serikat, 13 tentara dilaporkan tewas dan 200 lainnya terluka akibat serangan balasan Iran. Israel juga mencatat 19 korban tewas dan 5.400 luka-luka sejak konflik pecah, dengan korban jiwa dan luka-luka juga dilaporkan di berbagai negara Teluk.
Alih-alih mereda, ketegangan justru meningkat dengan langkah Amerika Serikat yang menambah pasukannya di Timur Tengah. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi kedatangan sekitar 3.500 pasukan tambahan pada 27 Maret, yang tiba di wilayah tersebut menggunakan kapal USS Tripoli. Pasukan marinir ini, bagian dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31, dilengkapi dengan pesawat angkut, pesawat tempur serang, serta aset serbu amfibi dan taktis.
Di tengah klaim Presiden AS Donald Trump mengenai negosiasi untuk mengakhiri perang, laporan dari Washington Post justru mengungkap rencana Pentagon untuk melancarkan serangan darat ke Iran. Pejabat AS yang enggan disebut namanya menyatakan bahwa operasi darat ini, yang telah dipersiapkan selama berminggu-minggu, kemungkinan tidak akan mencapai skala invasi penuh, namun bisa melibatkan serangan oleh pasukan khusus dan infanteri konvensional. Selain itu, ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga diperkirakan akan segera dikerahkan. Trump sendiri telah memperingatkan Iran untuk menerima kekalahan dan mengancam akan ‘melepaskan malapetaka’ jika Selat Hormuz terus diblokir.
Kompleksitas konflik semakin bertambah dengan masuknya kelompok pemberontak Houthi dari Yaman, yang didukung Iran, ke dalam kancah perang melawan AS dan Israel. Houthi mengklaim telah meluncurkan serangan rudal kedua terhadap Israel, sebuah langkah yang dikhawatirkan banyak pihak akan memicu meluasnya perang ke Laut Merah. Sebelumnya, Houthi telah aktif menyerang kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel di Laut Merah dan Teluk Aden sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina dalam konflik Gaza, namun keterlibatan langsung mereka dalam perang Iran melawan AS dan Israel baru terjadi pada Sabtu, 28 Maret.
Keterlibatan Houthi ini menjadikan Laut Merah semakin krusial bagi pelayaran global. Sejak pecahnya perang, Arab Saudi telah mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz yang dikontrol Iran. Banyak pengiriman dari negara-negara Teluk juga dialihkan melalui pelabuhan Salalah di Oman, di Laut Arab. Selain itu, gangguan pada perjalanan udara juga terjadi menyusul serangan balasan Iran ke berbagai fasilitas militer AS di negara-negara Teluk.

