Pemerintah Inggris meradang akibat komentar pedas mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait peran tentara NATO di Afghanistan. Pernyataan Trump yang meremehkan kontribusi pasukan Inggris dalam konflik tersebut memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak di Negeri Ratu Elizabeth.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News yang ditayangkan pada Kamis (22/1) lalu, Trump menyatakan keraguannya bahwa tentara NATO akan bertempur di garis depan di Afghanistan. Ia bahkan terkesan meremehkan peran pasukan Inggris dengan mengatakan, "Mereka akan mengatakan mereka mengirim beberapa pasukan ke Afghanistan. Dan memang benar, mereka agak di belakang, sedikit di luar garis depan."

Pernyataan ini sontak menuai kecaman keras dari Inggris. Menteri Kesehatan Stephen Kinnock menegaskan bahwa Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akan membahas masalah ini langsung dengan Trump. Kinnock menyebut komentar Trump "jelas salah" dan "sangat mengecewakan," mengingat Inggris dan sekutu NATO lainnya telah memberikan dukungan signifikan kepada AS setelah serangan 11 September 2001.
Emily Thornberry, ketua Komite Urusan Luar Negeri parlemen Inggris, bahkan menyebut komentar Trump sebagai "penghinaan mutlak" terhadap keluarga dari 457 tentara Inggris yang gugur di Afghanistan. Menurut angka resmi pemerintah Inggris, 405 dari 457 korban warga Inggris yang meninggal di Afghanistan tewas dalam aksi militer musuh.
Reaksi keras Inggris ini menunjukkan betapa sensitifnya isu pengorbanan pasukan mereka dalam konflik di Afghanistan. Komentar Trump dinilai tidak hanya meremehkan kontribusi Inggris, tetapi juga melukai perasaan keluarga yang ditinggalkan.
