Internationalmedia.co.id – News – London mengonfirmasi sebuah insiden signifikan di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) pada Selasa (31/3/2026) melaporkan bahwa jet-jet tempur Angkatan Udara Kerajaan (RAF) berhasil menembak jatuh sejumlah drone milik Iran dalam operasi semalam di wilayah berisiko tinggi. Kejadian ini menambah daftar panjang intervensi militer di kawasan yang sedang bergejolak.
Dalam pembaruan harian mengenai aktivitas militer Inggris di Timur Tengah, yang dirilis di tengah konflik berskala besar antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, MoD menjelaskan bahwa drone-drone tersebut berhasil dilumpuhkan oleh penembak dari Resimen RAF. Laporan ini, seperti dikutip dari Anadolu Agency, menyoroti peran aktif Inggris dalam menjaga stabilitas regional.

Armada udara Inggris, yang meliputi jet tempur canggih Typhoon dan F-35, serta helikopter Wildcat, terus menjalankan misi pertahanan strategis. Operasi ini mencakup wilayah udara di Siprus, Yordania, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab, menunjukkan jangkauan luas keterlibatan militer Inggris di kawasan tersebut.
Kementerian Pertahanan juga mengungkapkan bahwa pilot dan awak pesawat Inggris telah melampaui 1.200 jam terbang sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, menandakan intensitas operasi yang tinggi. Meskipun MoD tidak merinci jumlah pasti drone Iran yang ditembak jatuh dalam insiden terbaru ini, laporan sebelumnya pada Minggu (29/3) menyebutkan bahwa penembak Resimen RAF sukses menghancurkan tujuh "drone serang satu arah" milik Iran.
Kawasan Timur Tengah memang berada dalam status siaga tinggi sejak serangan gabungan skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan-serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.340 orang di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran membalas dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke target-target di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi markas aset militer AS.
Serangan balasan dari Teheran ini tidak hanya menyebabkan kerusakan signifikan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa di Israel dan beberapa negara Teluk. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 13 tentara AS yang ditempatkan di negara-negara Teluk telah tewas, dan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan tersebut, menggarisbawahi dampak mematikan dari konflik yang terus memanas.
(nvc/ita)

