Internationalmedia.co.id – Gelombang protes atas penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Ekuador semakin memanas, bahkan konvoi Presiden Daniel Noboa menjadi sasaran amuk massa yang menentang kenaikan harga BBM yang signifikan.
Konvoi yang membawa Presiden Noboa, para duta besar, dan diplomat asing, termasuk perwakilan dari PBB dan Uni Eropa yang tengah menyalurkan bantuan kemanusiaan, diserang dengan batu dan bom molotov. Juru bicara pemerintah Ekuador, Caroline Jaramillo, mengonfirmasi bahwa konvoi tersebut juga membawa diplomat Vatikan, Duta Besar Uni Eropa, dan Duta Besar Italia.

Presiden Noboa melalui akun media sosial X-nya mengunggah foto-foto yang memperlihatkan kerusakan parah pada kendaraan dalam konvoi, dengan kaca depan dan samping pecah akibat serangan tersebut. "Mereka menolak kemajuan di Ekuador dan memilih kekerasan," tulis Noboa, merujuk pada para demonstran bersenjata. "Kita terus maju: Ekuador tidak boleh mundur," tegasnya.
Pemerintah Ekuador melaporkan bahwa konvoi tersebut disergap oleh sekitar 350 orang saat dalam perjalanan mengirimkan bantuan kepada masyarakat terdampak di Provinsi Imbabura. Massa melemparkan batu, kembang api, dan bom molotov ke arah konvoi. Sekitar 50 tentara yang mengawal konvoi berusaha memukul mundur para penyerang.
Angkatan Bersenjata Ekuador menuduh para demonstran melukai 12 tentara dan menyandera 17 tentara lainnya, serta menyebut para pelaku sebagai "kelompok teroris". Pemerintah menegaskan bahwa pelaku penyerangan tidak mewakili warga Ekuador, melainkan para penjahat.
Unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan telah berlangsung selama belasan hari di Ekuador. Organisasi hak masyarakat adat terbesar, Conaie, menyerukan aksi mogok nasional tanpa batas waktu untuk menentang kebijakan Noboa terkait subsidi BBM. Conaie juga menuding bahwa salah satu anggota komunitas adat tewas akibat "kejahatan negara" yang dilakukan atas perintah Presiden Noboa.
Menyusul aksi protes yang semakin meluas dan diwarnai kekerasan, Presiden Noboa telah menetapkan status darurat di tujuh provinsi. Kebijakan penghapusan subsidi BBM yang diumumkan Noboa bertujuan untuk menghemat anggaran negara sebesar US$ 1,1 miliar, yang rencananya akan dialihkan untuk program bantuan sosial dan dukungan pertanian. Namun, kebijakan ini menyebabkan harga diesel melonjak drastis, memicu kemarahan masyarakat yang hampir sepertiganya hidup dalam kemiskinan.

