Internationalmedia.co.id melaporkan, Gunung Klyuchevskaya Sopka, gunung berapi tertinggi di Semenanjung Kamchatka, Rusia, meletus beberapa saat setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,8 mengguncang wilayah tersebut. Letusan dahsyat ini memuntahkan gumpalan abu vulkanik hingga ketinggian puluhan kilometer, membumbung tinggi ke angkasa.
Laporan dari Tim Tanggap Letusan Gunung Berapi Kamchatkan melalui Telegram, yang dikutip internationalmedia.co.id, menyebutkan gumpalan abu menyebar setidaknya 2,5 kilometer di atas puncak gunung dan mencapai jarak 58 kilometer ke arah timur. Mereka bahkan memperingatkan potensi letusan abu hingga ketinggian 8 kilometer sewaktu-waktu.

Kejadian ini menambah daftar panjang aktivitas vulkanik di Cincin Api Pasifik. Klyuchevskaya Sopka, yang merupakan salah satu gunung berapi paling aktif dan tertinggi di Eurasia, memiliki sejarah letusan yang panjang dan intens.
Gunung stratovolcano aktif ini menjulang setinggi 4.750 meter di atas permukaan laut. Terbentuk sekitar 7.000 tahun lalu, gunung ini berada di zona subduksi Cincin Api Pasifik, tepat di pertemuan lempeng Pasifik dan Eurasia—lokasi yang dikenal dengan aktivitas geologisnya yang sangat intens. Kawah puncak dan celah-celah di lerengnya kerap mengeluarkan abu, gas vulkanik, dan lava.
Letusan pertama Klyuchevskaya Sopka tercatat pada tahun 1697. Sejak itu, gunung ini beberapa kali meletus dengan intensitas yang bervariasi, menghasilkan kolom abu, aliran lava, dan lontaran material vulkanik. Salah satu letusan signifikan terjadi pada Oktober 2020, yang terdeteksi oleh satelit Terra dan Aqua, menunjukkan aliran lava dan semburan abu yang membubung tinggi.
Letusan terbaru pada 27 Juli 2025, yang terjadi beberapa jam setelah gempa dahsyat, diperkirakan dipicu oleh aktivitas seismik yang menyebabkan ketidakstabilan magma. Hal ini diperkuat oleh pernyataan ahli vulkanologi yang dikutip internationalmedia.co.id.
Dampak utama letusan adalah penyebaran abu vulkanik ke atmosfer, mencapai ketinggian lebih dari 12 kilometer dan menyebar ke arah timur hingga puluhan kilometer. Abu vulkanik ini sangat berbahaya bagi penerbangan, sehingga Pusat Vulkanologi Rusia (KVERT) langsung mengeluarkan peringatan penerbangan kode merah.
Pemantauan gunung berapi ini dilakukan secara intensif menggunakan sistem seismik dan observasi satelit. Tim Tanggap Letusan Gunung Berapi Kamchatkan juga memperingatkan potensi letusan susulan dalam beberapa hari ke depan.

