Washington DC – Sebuah kabar mengejutkan datang dari kancah media Amerika Serikat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, The Washington Post, surat kabar legendaris yang kini berada di bawah kepemilikan miliarder pendiri Amazon, Jeff Bezos, secara resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Keputusan "menyakitkan" ini, yang diumumkan pada Rabu (4/2) waktu setempat, diperkirakan berdampak pada ratusan jurnalisnya, memicu gelombang kekhawatiran di industri pers.
Pengumuman tersebut, seperti dilansir AFP pada Kamis (5/2/2026), menjelaskan bahwa restrukturisasi adalah langkah yang tak terhindarkan. The Washington Post, yang pernah menorehkan sejarah emas dengan laporan investigasinya yang krusial dalam skandal Watergate—membantu menjatuhkan Presiden Richard Nixon—kini dihadapkan pada realitas ekonomi yang berbeda. Pemimpin Redaksi Matt Murray mengonfirmasi adanya "pengurangan substansial" di ruang redaksi.

Penyusutan skala The Washington Post ini terjadi di tengah tekanan berat yang dialami media tradisional AS. Presiden Donald Trump dikenal sering melabeli jurnalis sebagai "fake news" dan melancarkan gugatan hukum terkait liputan kepresidenannya. Menariknya, Jeff Bezos, yang mengakuisisi The Washington Post pada 2013, belakangan terlihat semakin merapat ke lingkaran Trump. Bahkan, Amazon milik Bezos baru-baru ini menjadi sorotan karena membayar Ibu Negara AS, Melania Trump, sebesar US$ 40 juta untuk film dokumenter "Melania" ditambah US$ 35 juta untuk pemasarannya.
Dalam pernyataannya kepada para karyawan, Murray menegaskan bahwa perubahan ini adalah cerminan dari pergeseran ekonomi radikal yang melanda industri berita. "Ini akan membantu mengamankan masa depan kita… dan memberikan kita stabilitas ke depan," ujarnya, menggarisbawahi urgensi langkah tersebut demi keberlanjutan surat kabar.
Murray juga menyoroti evolusi ekosistem berita, mulai dari munculnya individu yang "menghasilkan dampak dengan biaya rendah" hingga kemajuan konten yang dihasilkan AI. Ia mengakui bahwa "struktur perusahaan terlalu berakar pada era yang berbeda, ketika kita adalah produk cetak lokal yang dominan." Lebih lanjut, ia mengkritik bahwa "meskipun kita menghasilkan banyak karya yang sangat baik, kita terlalu sering menulis dari satu perspektif, untuk satu segmen audiens."
Meskipun The Washington Post tidak merinci jumlah pasti karyawan atau jurnalis yang di-PHK, laporan dari media terkemuka lainnya, The New York Times, menyebutkan angka sekitar 300 jurnalis dari total 800 yang diberhentikan. Sebagian besar koresponden luar negeri terkena dampaknya, termasuk seluruh tim di Timur Tengah dan koresponden Ukraina di Kyiv. Departemen olahraga, grafis, dan berita lokal juga mengalami pengurangan drastis, bahkan podcast harian "Post Reports" ditangguhkan.
Ke depan, Murray menyatakan bahwa The Washington Post akan memusatkan perhatian pada topik-topik kunci seperti politik, keamanan nasional, teknologi, investigasi, dan bisnis, di antara area lainnya.
Keputusan ini sontak memicu reaksi keras. Serikat pekerja yang mewakili jurnalis The Washington Post menyerukan aksi unjuk rasa di luar kantor pusat pada Kamis (5/2) siang waktu setempat. "PHK ini bukanlah hal yang tak terhindarkan. Ruang redaksi tidak dapat dikosongkan tanpa konsekuensi terhadap kredibilitas, jangkauan, dan masa depannya," tegas serikat pekerja dalam pernyataannya. Marty Baron, mantan pemimpin redaksi hingga 2021, bahkan menyebut pengumuman ini sebagai "salah satu hari terkelam dalam sejarah salah satu organisasi berita terbesar di dunia."
(nvc/idh)

